Warna-warni di Profpic Facebook

Berapa waktu lalu, Amerika akhirnya melegalkan pernikahan sesama jenis di semua negara bagian. Kejadian ini dirayakan di banyak sosial media dengan tagar #LoveWins. Sebagai social media dengan pengguna aktif terbesar, Facebook memperkenalkan fitur untuk membuat profile picture akun kita memiliki filter pelangi warna-warni; warna yang selama ini diasosiasikan dengan gay.

a

Saya yakin, sebenarnya ke depannya fitur filter ini nantinya akan dijadikan bahan jualan Facebook untuk brand-brand untuk promosi di Facebook. Misalnya nanti bisa pasang warna merah Coca-Cola di profpic. Saingannya Twibbon lah kalau di Twitter.

a

 

Hal yang menarik bagi saya adalah bagaimana profpic rainbow warna-warni ini telah membawa pergerakan LGBTIQ di Indonesia ke level yang lebih personal.

Saya selalu percaya, untuk bisa sejajar atau paling tidak diterima, para gay harus punya visibilitas dulu. Bahasa kerennya : eksis.

Hal yang paling tidak menyenangkan saat menyadari bahwa diri kita gay adalah… saat kita merasa berbeda dengan orang kebanyakan. Apa yang terjadi jika para gay menjadi eksis di berbagai media terutama internet? Sebuah pesan tidak langsung bahwa “kami itu ada jadi kamu tidak sendiri”.

Dan pesan itu jadi lebih berpengaruh karena bukan disampaikan oleh bule-bule luar negeri lewat artikel atau video, film atau serial Glee, melainkan dari orang-orang di sekitar para gay yang mereka kenal; teman-teman facebook dengan profpic Facebook warna-warni.

Saat mengganti profpic saya menjadi warna-warni, saya cukup terkejut saat mengetahui banyak sekali teman Facebook saya melakukan hal yang sama. Bukan cuma mereka yang selama ini terbuka dengan seksualitas mereka, tapi juga mereka di luar LGBTIQ seperti dosen saya, hingga teman kecil saya di Sulawesi dulu.

Nah, seiring dengan profpic yang jadi warna-warni, begitu juga dengan timeline saya yang banjir warna-warni status dan artikel dukungan dan kebencian.

Lantas bagaimana dengan yang kontra?

Kalau kata soundtrack serial Satu Kakak Tujuh Ponakan yang lawas itu, “Jangan cemaskan masa depan kini atau nanti, masih ada kesempatan yang ketemu bila kau cari”.


Jika ditarik hal positifnya, mereka menganggap gay ada dan isu tentang seksualitas menjadi lebih terkenal. Karena seperti kata pepatah “Tak kenal, maka tak sayang”. 😉

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *