Video Kills The Internet Stars?

Tengah malam waktu Turki pada 16 Juli lalu terjadi sebuah kudeta di negara Eropa-Asia tersebut. Lebih jelas dan lengkap soal kudeta Turki bisa baca di sini. Yang menarik adalah ketika Recep Tayyip Erdogan, Presiden Turki, menyampaikan pesan perlawanan terhadap kudeta melalui FaceTime. Aplikasi video call iPhone tersebut digunakan sebab Erdogan sedang berlibur di Marmaris. Lewat FaceTime berdurasi lebih dari dua menit tersebut Erdogan menyampaikan pesannya yang disiarkan oleh CNN Turki dan meminta rakyat dan pengikutnya untuk turun ke jalan dan menghadapi militer yang melakukan kudeta. Video kills the coup (or not?)!

erdohan facetime

Erdogan menyampaikan pesannya lewat FaceTime.

 

Video mendominasi Facebook atau Facebook mendominasi (dengan) video?

Jika anda pengguna Facebook dan Instagram yang kerap memantau timeline, mungkin menyadari bahwa timeline yang biasanya dipenuhi oleh foto dan teks kini mulai didominasi oleh konten video. Biasanya video-video berdurasi pendek yang ditonton tak lebih lama dari waktu membaca satu artikel berita, (nyaris) tanpa buffering. Video ini tidak berat dan tidak makan data. Facebook membuat video ini auto-playing sehingga kebanyakan pengguna mau tak mau jadi menonton (sekarang sudah bisa dipilih tidak auto-play kalau tidak salah).

Media-media besar pun kini memanfaatkan video di Facebook untuk meraih audience yang lebih luas dan share statistic yang terus bertambah. Tapi tak hanya media, akun-akun personal juga tak ketinggalan bervideo. Ditambah lagi Instagram meluncurkan fitur video pendeknya (15 detik) pada tahun 2013 yang kini menjadi lebih panjang, yaitu 60 detik. Indovigram adalah bukti terjelas bagaimana fitur ini berhasil menyedot pengguna Instagram untuk lebih beraudio-visual dibanding visual saja.

image00

Tren vlogging di Indonesia.

Kamera smartphone yang semakin memadai dan data video yang tak butuh ukuran besar membuat vlog pun berjamuran di Indonesia! Meskipun tren vlog sudah lama berlangsung di negara dunia pertama, namun di Indonesia sepertinya baru setahunan belakangan vlog semakin populer. Video blog menjadi pilihan paket lengkap bagi pengguna internet (terutama anak muda) untuk mengekspresikan diri, pendapat, gaya, sampai suara. Jokowi bahkan ikut muncul di vlog milik anaknya, Kaesang, salah satunya untuk mengejek model rambut anaknya. Tren vlog juga semakin jelas ketika webzine-webzine soal teknologi membuat daftar rekomendasi kamera mana yang oke buat vlogging.

Oh jangan lupa Awkarin!

Video lebih murah dari internet.

Internet di Indonesia secara umum tidaklah murah. Namun, biaya untuk mengakses konten video, lucunya, lebih murah. Contohnya: rata-rata harga paket data internet adalah Rp20.000,- per gigabytes. Kuota tersebut biasanya habis dalam dua hari untuk berselancar di website dan sebagainya. Sementara itu, Tri memiliki layanan streaming, Genflix, yang bertarif Rp25.000,- per bulan yang memungkinkan penggunanya untuk mengakses tayangan-tayangan televisi luar dan video pilihan. Di layanan yang hanya terdapat di Android ini tersedia banyak film berkualitas high definiton pada kanal Video on Demand. Jauh lebih murah jika dibandingkan harga untuk mengakses internet pada umumnya.

Data dari MillardBrown (perusahaan konsultan riset) menunjukan bahwa konsumsi data yang paling banyak di antara pengguna internet Indonesia adalah untuk menonton video. Lebih tepatnya rata-rata 4 jam dalam sehari. Selain harga layanan dan data yang lebih murah, sejumlah platform internet juga sudah mengompres data agar lebih ringan, termasuk video. Ketakutan akan kehabisan data karena streaming video pun sudah tak ada lagi. Hal ini juga didukung oleh data dari inMobi Internal Data 2015 yang menyatakan bahwa penonton YouTube Indonesia meningkat dari 3 milyar di tahun 2014 menjadi 5 milyar di 2015.

Migrasi dari televisi ke internet.

Berdasarkan data dari We Are Social, setidaknya pengguna internet menghabiskan rata-rata 4 jam 42 menit untuk mengakses internet di PC maupun tablet dalam sehari. Dengan rata-rata pengguna hanya menonton televisi 2 jam 22 menit per hari. Jumlah rata-rata waktu menonton TV ini masih di bawah rata-rata waktu yang dihabiskan saat mengakses media sosial (dengan konten video salah satunya). Selain itu, aplikasi mobile Mivo TV yang menyiarkan puluhan saluran televisi (termasuk saluran nasional) tahun lalu masuk sebagai aplikasi paling banyak digemari ke-3 menurut data Google Play Indonesia.

073915200_1455447379-digital_2_edit_2

\Masih ingat Netflix yang diblok oleh provider lokal? Semoga hanya kebetulan ketika tak lama kemudian muncul layanan serupa kelahiran lokal dengan nama yang mirip. Di antaranya iFlix layanan streaming berbayar Asia Tenggara yang dihadirkan di Indonesia melalui IndiHome di bawah Telkom dan Genflix milik Orange TV di bawah anak usaha Sinar Mas Group. Bukti lain bahwa start up di Indonesia memang semakin lama didominasi oleh pemain-pemain besar (baca di sini lebih lengkap soal ini).

Akses video murah BUKAN berarti pilihan yang lebih banyak dan lebih baik.

Jika memang video = masa depan konten di internet, ada kemungkinan terjadi perpindahan jenis konten televisi nasional Indonesia ke internet. Kebalikan dari On The Spot milik Trans TV yang dari internet ke televisi, nantinya konten video di internet kualitasnya tak jauh dari ekspresi mata berlebihan di sinetron. Vidio.com mulai menjalankan konsep ini dengan memindahkan sejumlah konten-konten yang ada di SCTV ke website. Berbeda dengan Net TV yang sejak awal menggunakan baik televisi terestrial maupun streaming di YouTube dan tampaknya bersikeras melawan arus konten televisi nasional yang “tega” dan sebodo amat terhadap nasib kepala penontonnya yang tak punya banyak akses dan pilihan. Langkah yang dilakukan SCTV lewat vidio.com ini bukan tidak mungkin akan diikuti juga oleh stasiun-stasiun televisi lainnya.

Dengan begitu, murahnya akses video di internet tak tampak sebagai tanda yang positif bagi pengguna internet Indonesia. Alih-alih mendapatkan tontonan setingkat Breaking Bad atau House of Cards, tontonan online nantinya malah sebatas Tukang Bubur Naik Internet. Semoganya sih tidak kejadian.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *