“Ubah Noise Jadi Voice”: Refleksi dari Indonesia IGF 2016

Mungkin bukan kebetulan jika platform Indorelawan, gerakan Papua Itu Kita, dan media online Islam Bergerak sama-sama dimulai pada tahun 2014. Siang itu, saat memoderatori panel berjudul “Ubah Noise Jadi Voice” dari Kelas Muda Demokrasi Digital di Indonesia Internet Governance Forum 2016 saya mencoba menerka-nerka arti pola tersebut. Terkaan ini juga disambut oleh Aulia Hadi sebagai salah satu panelis dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang meneliti seputar new media dan aktivisme. Mungkin 2014 adalah tahun baby boom bagi pemanfaatan internet untuk perubahan?

papua-itu-kitaHomepage Papua Itu Kita yang merupakan forum peduli kemanusiaan dan keadilan di Papua.

 

Digital activism memang makin populer sejak social media booming, Facebook lebih tepatnya. Facebook dan Twitter memudahkan aktivisme berbasis dan berdukungan digital semakin viral saja. Namun, sebetulnya jauh sebelum tombol share nyaris dianggap menggantikan turun ke jalan, internet sudah menjadi ruang yang mengundang bagi para aktivis. Sampai akhir pemerintahan Orde Baru pada 1998, media dan informasi di Indonesia merupakan hal yang terpusat dan cenderung satu arah. Mulai dari televisi, radio, buku, surat kabar, sampai majalah tak ada yang tak berada di bawah pengawasan pemerintahan saat itu. Opini atau kritik terhadap pemerintah tak mungkin lolos masuk ke media massa yang ada.

Tahun 1990-an menjadi era di mana perangkat keras, PC juga modem mulai digunakan, opini dan informasi punya ruang baru. Milis Apa Kabar Indonesia menjadi wadah para aktivis prodemokrasi di akhir era Soeharto untuk bertukar informasi. Berikutnya blog menjamur. Internet di sini memungkinkan masyarakat berekspresi tanpa harus melewati sistem redaksi yang panjang. Selama punya komputer dan koneksi, siapa pun bisa menjadi “media”.

Perkembangan aktivisme digital bukan bebas nyinyiran. Muncul berbagai istilah yang mencibir dan menempatkan aktivisme digital di bawah aktivisme gaya lama (meskipun membedakan dan mengkotak-kotakan aktivisme merupakan hal yang tak berguna). Istilah-istilah tersebut antara lain: slacktivism (aktivisme malas), armchair activism, dan clicktivism.

Does it really change anything to label it?

Does it really change anything to label it?

 

Menurut Aulia Hadi mengutip Danah Boyd, karakter-karakter social network membuatnya bermanfaat bagi aktivisme, yaitu: replicability (bisa ditiru –> share, repost, dll), persistence (kegigihan), scalability (bisa dihitung –> statistik), dan searchability (dapat dicari –> archive). Sementara itu, ada tujuh fungsi teknologi informasi dan komunikasi dalam aktivisme yang dipetakan oleh Mary Joyce, yaitu: mendokumentasikan, menyiarkan, memobilisasi, menciptakan ruang kreasi bersama, menyatukan, melindungi, dan mentransfer sumber.

Sebenarnya, ketika kita bicara aktivisme digital hari ini, terlalu luas rasanya. Seperti menulis wacana tandingan yang dilakukan oleh salah satu pengisi panel, Islam Bergerak; atau penggunaan internet untuk kampanye positif soal Papua yang dilakukan oleh Papua Itu Kita, sampai yang membangun platform untuk mempertemukan relawan dan kegiatan, Indorelawan. Berdasarkan kuadran yang dibuat oleh Van Laer dan Van Aelts, aktivisme digital dibagi berdasarkan posisi penggunaan internet dan tingkat ambang batas aktivisme. Apakah suatu aktivisme menggunakan internet hanya sebagai alat pendukung (internet supported) atau basis aktivisme (internet based).

Ada temuan dan simpulan menarik dari Merlyna Lim yang juga dibagi dalam panel tersebut. Menurutnya, aktivisme digital yang terjadi di Indonesia dan berhasil adalah yang menggunakan narasi sederhana, berisiko rendah, dan masih sejalan dengan “metanarasi” yang ada di masyarakat. Jadi, wajar saja jika pesan-pesan religius meskipun rasis masih lebih bisa diterima karena “sederhana” dan “tak berisiko” juga sejalan dengan metanarasi (semua mau masuk surga bukan).

Anonymous adalah kelompok hacktivist (hacker + activist) yang dibentuk pada tahun 2003. Mereka biasa menggunakan topeng Guy Fawkes dari film V For Vendetta saat harus tampil.

Anonymous adalah kelompok hacktivist (hacker + activist) yang dibentuk pada tahun 2003. Mereka biasa menggunakan topeng Guy Fawkes dari film V For Vendetta saat harus tampil.

 

Permasalahannya adalah dengan tingkat penggunaan internet di Indonesia kini, apakah anak muda yang disebut-sebut sebagai digital native–istilah yang bias sosial-ekonomi dan wilayah–akan mampu menggunakan internet dengan efektif sebagai tools maupun basis aspirasi mereka terhadap perubahan? Sekecil apa pun perubahan yang ingin mereka buat. Yang mengerikan adalah jika anak muda dan internet di Indonesia terjebak dalam tren seribu start up dan berpikir dengan koneksi internet mereka semua harus menjadi Zuckerberg yang muda tapi CEO. Ketika sebenarnya koneksi bisa membawa mereka lebih jauh dari itu, lebih seru dari itu, dan lebih gila dari itu. Lebih dari overused jargon karya anak bangsa.

Facebook digunakan untuk koordinasi selagi Arab Spring terjadi di Mesir.

Facebook digunakan untuk koordinasi selagi Arab Spring terjadi di Mesir.

 

Tapi lagi-lagi, koneksi saja tidak cukup menjadi bensin bagi gerakan perubahan sosial. Menurut Jacob Applebaum, arsitektur menentukan situasi politik juga. Misalnya pembangunan infrastruktur, kebijakan terkait, serta desain juga menentukan. Disambut juga oleh Merlyna dalam simpulan salah satu penelitiannya terkait digital aktivisme. Menurutnya tak hanya dari teknologinya semata, tapi juga “tatanan dan konteks sosial di sekitar teknologi adalah kunci bagi dampaknya terhadap politik.” Jadi, ketika Twitter dielu-elukan sebagai tonggak revolusi Arab Spring, tentu Twitter hanyalah alat yang menjadi punya dampak dalam tatanan dan konteks sosial di Mesir dan Tunisia. Bukan seperti alat yang keluar begitu saja dari kantung ajaib Doraemon dan bisa mengubah nilai Nobita dari 0 jadi 100.

Kaitannya dalam konteks Indonesia tentu di luar infrastruktur yang mungkin di sebagian tempat sudah 4G, lebih mendasar dari itu, apakah situasi sosial politik kita sudah mendukung bagi teknologi untuk punya dampak dan mengubah?

 

Lebih jauh soal Aktivisme Digital bisa dipelajari di Kelas Muda Demokrasi Digital di KelasKita.com.

 

Sumber foto utama:
skosnymokiem.files.wordpress.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *