Testimoni Kencan Online: Dalam Cinta Kita Terhubung

Ketika teman sekantor saya, yang seorang jomblo berkualitas, tahu saya mencoba kencan virtual, reaksi pertamanya cukup keras. “Shame on you!” serunya. Is it really put me to shame?

Mungkin iya. Mungkin tidak. Masalahnya saya juga bukan orang yang punya banyak stok malu. Jadi, menjadi malu bukan perasaan yang saya dapatkan ketika mencoba atau mengumumkan ke orang bahwa saya ikut online dating. Malah saya merasa biasa-biasa saja karena pada dasarnya toh saya suka kenalan dengan orang baru.

But to put less shame, I’d better quote some philosophers in this article. Biar kelihatan scientific! Karl Marx dalam sebuah manuskripnya kira-kira berujar, kita dapat mempersepsikan kesetaraan hubungan material dari suatu masyarakat dengan mengamati hubungan antara pria dan wanita dalam masyarakat tersebut.

Dengan terwujudnya dunia digital seperti sekarang, kita bisa hidup dan menghidupi sistem masyarakat yang tanpa batas. Konstruksi gender, pembedaan kelas sosial, sebaran dan jarak geografis, keterkungkungan berdasarkan stereotip, tidak lagi jadi masalah besar dalam relasi interface pengguna internet.

Semua yang dulu maya, kini jadi realitas yang diterima banyak orang. Mulai dari praktik dagang, silaturahmi, tindakan kriminal, aktivitas seksual, transfer pengetahuan, ibadah, hingga hubungan romantis, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja secara virtual. Sebagian besar dari masyarakat dunia telah menginternalisasikan sistem ini dalam kehidupannya. Dalam masyarakat yang seperti ini, pilihan untuk mengikuti online dating seharusnya bukan lagi menjadi pilihan yang memalukan. Kritik online dating seharusnya bukan lagi perkara malu atau ketakutan akan tercerabutnya harga diri.

Bicara kritik, seorang filsuf Prancis Alain Badiou dalam bukunya “In Praise of Love” menuduh platform kencan virtual berandil besar dalam merusak romantika dengan menghilangkan elemen risiko yang sangat penting dalam cinta. Katanya, dengan menggunakan software untuk menghitung kecocokan anggota, platform tersebut lebih cenderung mencocokan orang dengan partner yang memiliki segala kualitas yang dibutuhkan untuk menciptakan hubungan stabil a la kaum bourjois.

Pendapat itu cenderung benar ketika online dating users memutuskan memercayai algoritma platform online dating yang menghitung secara kuantitatif kecocokan antar users. Sebagai orang yang lebih percaya pada statistik, saya awalnya juga lebih memilih menindaklanjuti pria-pria yang memiliki kecocokan di atas 80%. Nyatanya angka memang tidak romantis! Saya lebih tertarik kepada si 53%, atau si 34%, atau si 0%.

Tapi bukan berarti excitement online dating itu nol sama sekali. Justru menurut saya online dating lebih menantang, lebih berisiko, lebih Astaghfirullah ketimbang kencan konvensional. Saya pernah kencan dengan seorang businessman-muka-tukang-parkir-hati-raffi-ahmad. Saya pernah ngedate dengan supermodel wanna be yang mata, kaki, dan mata kakinya sibuk bergerilya ke mana-mana. Saya juga pernah bertemu dengan pria baik-baik yang agak takjub waktu saya bilang cinta itu cuma hormon.

Fragmentasi antara offline dating dan online dating saya pikir cuma sebatas medium yang digunakan (ini bisa banget didebat. Silahkan para tukang kritik). Lewat online dating saya lebih banyak dan lebih bisa mengemukakan pandangan atau pikiran yang mungkin tidak bisa saya sampaikan melalui interaksi tatap muka langsung. Tapi bukan berarti saya menutup diri mengenal orang dari pertemuan-pertemuan secara langsung. Saya cuma tidak ingin persepsi negatif tersemat dalam diri online dating users. Saya cuma tidak ingin romantika terbatasi oleh medium. Saya cuma ingin teman saya yang jomblo berkualitas itu bilang, “Wow, it’s cool!” and start online dating by herself.

Moreover, it’s online dating, not online mating. Cool it, guys!

 

 

Find me on OkCupid and Tinder.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.