Tersesat dalam Belantara Digital: Internet Dulu dan Kini

Internet Pada Mulanya:

Bagi Pakai Sebagai Kondisi Mulajadi.

Pada sebuah dokumen bertanggal Maret 1989, seorang peneliti di CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir/Conseil Européene pour la Recherche Nucléaire) bernama Tim Berners-Lee menulis sebuah proposal untuk “pengelolaan dokumen mengenai akselerator dan eksperimen di CERN” menggunakan sesuatu yang ia sebut sebagai hypertext. Sudah, itu saja tujuannya, sederhana. Namun, hampir 30 tahun kemudian teknologi itu dikembangkan untuk menampung dan berbagi kebencian, berita palsu, dan tentu saja pornografi.

Sebelumnya, semua masalah yang dihadapi internet sangat berbeda; perangkat distribusi informasi ini hanya dimiliki oleh mereka yang punya akses terhadap pengetahuannya. Meskipun jauh lebih sederhana dibandingkan hari ini, hingga akhir 1990-an hanya segelintir orang yang memahami teknologi tersebut. Di masa ini forum daring, chat berbasis IRC (Internet Relay Chat), dan blog berbasis html yang dibangun dari nol marak dan merupakan fondasi awal dari warganet. Mungkin bedanya saat itu pemilik platform adalah warganet–saat itu kata ini belum digunakan–sendiri; sebuah komunitas organik yang cukup eksklusif.

Internet untuk massa baru mulai meledak pada awal-tengah tahun 2000-an dimana web 2.0–sebuah terminologi yang mensimplifikasi era saat teknologi difokuskan pada kemudahan kreasi dan publikasi konten– lahir. Pada saat yang sama pengiklan (baca: perusahaan besar yang mampu menggelontorkan uang yang sangat banyak) mulai melirik internet sebagai perangkat distribusi massal. Sekelompok pemain-pemain digital masa itu — Yahoo dan Google terutama — mengeruk keuntungan besar. Hal ini terjadi karena sesuatu yang disebut sebagai dotcom-bubble di akhir abad ke 20 — di mana investasi kepada perusahaan-perusahaan berbau internet dispekulasi terlalu tinggi — menyisakan raksasa-raksasa (dan mantan raksasa) yang kita kenal sekarang seperti Amazon, Google, eBay, Yahoo, Apple, Microsoft, AT&T, dan lain-lain. Tidak hanya di luar negeri, secara lokal pun perusahaan-perusahaan seperti bhinneka.com, detik.com, Indosat, XL, Telkomsel, dan sebagainya dibesarkan oleh kemampuannya menjadi penyintas dotcom-bubble tersebut.

Pertumbuhan penggunaan internet ini berjalan beriringan dengan tumbuhnya pembelian perangkat komputer konsumen dan dimulainya budaya berinternet sebagai bagian dari perabot rumah tangga. Hal ini dan perkembangan web 2.0 menjadikan internet sebagai platform yang dapat menghasilkan pendapatan tinggi dengan modal yang efisien. Setelah itu para produsen konten amatir bermunculan. Di Indonesia, tahun 2000-an adalah masa subur produsen konten dengan tokoh-tokoh blogger yang tidak sedikit diantaranya menjadi kepala-kepala corong media digital hari ini — Enda Nasution, Wicaksono “Ndorokakung”, dan tentu saja Raditya Dika adalah beberapa diantaranya.

Percepat ke hari ini, setelah ke”unicorn”an perusahaan-perusahaan berasaskan digital diakui oleh media dan anak-anak muda yang telah teracuni konsep bahwa masa depan harus mengikuti renjananya dengan menolak korporasi, menjadi pejuang disrupsi, dan bergabung dengan perusahaan rintisan teknologi, pengetahuan yang dibutuhkan dalam produksi konten menjadi minim; platform memanjakan produsen konten dengan segala kecanggihan UI/UX dan internet menjangkau hingga merauke. Bergembiralah! Kekuatan konten kembali berada di tangan rakyat!

Ariel Heryanto mengatakan kurang lebih seperti ini: Hate Speech zaman dahulu adalah produk yang membutuhkan modal besar, maka kontrol terhadapnya tidak susah; bredel perusahaannya maka produksi konten akan berhenti. Hari ini dengan segala macam platform untuk berekspresi tidak ada satu entitas yang dapat mutlak disalahkan. Pada dasarnya, meskipun platform media digital saat ini dikuasai oleh segelintir, kami semua — warganet — yang memproduksi konten di platform-platform tersebut. Keadaan ini memberikan perusahaan pemilik platform kebebasan untuk lepas tangan dari apa yang terkandung pada platformnya, karena penciptaan konten bukan dilakukan oleh perusahaan tersebut. Dengan logika yang sama tentu saja seharusnya data yang kita tempatkan di sana tetap milik kita. Tetapi lihat saja syarat dan ketentuan platform kesayangan Anda, lalu lihat baris yang kurang lebih menyatakan bahwa, “konten Anda yang diserahkan secara global dilisensikan dengan lisensi non eksklusif dan bebas royalti untuk dapat langsung digunakan, disalin, digubah “ lalalalala….

Perilaku Pemangku Kepentingan:

Oportunitas Keterpaparan Global

Sebutkan selebgram/influencer/vlogger/YouTuber atau produsen konten favorit Anda di platform lainnya. Dalam hati tentunya. Bayangkan wajahnya, visualisasikan, dan tahan.
Iya. Hanya Anda dan orang di tongkrongan Anda yang tau siapa dirinya. Desentralisasi kelompok selera di era digital sedemikian rupa meluas sehingga artis layar kaca — dulu ini majas untuk televisi — dapat diimbangi kekuatan persuasinya oleh artis kaca hitam — ini maunya referensi black mirror. Konten sudah berserakan dan terdiversifikasi hingga siapapun dengan akses internet dapat menemukan konten yang gue bangetTM dan menemukan kelompok seleranya sendiri. Lewat sudah media massa dalam bentuk majalah dan program televisi mendikte budaya anak muda dan saatnya produsen konten amatir/tidak amatir menawarkan ragam selera yang tak terbatas.

Konten yang diakses atau disajikan dalam konteks ini tidak selalu bersifat menghibur atau edukatif atau banal, kekuatan persuasi terdesentralisasi justru digunakan kembali oleh pemangku kepentingan untuk memajukan agenda dan produk (dan kadang dalam kondisi tertentu agenda adalah produknya, tanyakan saja pada pejabat negara setempat). Yang terjadi adalah sebuah ménage à trois antara masyarakat — yang berlaku sebagai produsen dan konsumen dalam model usaha ini, perusahaan — yang memiliki daya beli massal, dan negara — yang seharusnya bertugas sebagai regulator — dengan konten menjadi komoditas virtual yang diperjualbelikan antara ketiga pihak ini. Nilai riil konten? Pengaruh kekuasaan sebagaimana diketahui Soekarno, Multatuli, Sjahrir, Tan Malaka, Che Guevara maupun Obama adalah buku, pamflet, gelombang radio, dan media perantara informasi lainnya yang memiliki cara paling ampuh dalam memperluas dan mengamankan kekuatan politis; baik untuk menggerakan suatu bangsa hingga mengambil hati remaja milenial pemilih pemula.

Berbeda dengan tiga sarana yang saya sebut sebelumnya, internet dapat menyebabkan sebuah ide untuk berkelana melampaui batas-batas fisik dimensi ruang dan waktu — mohon maaf Karl Marx (alm.) dan kelompok-kelompok studi sosial yang didirikan anak-anak jurusan teknik yang tidak mau masuk ilmu sosial saat SMA menyangka Das Kapital adalah kitab letterlecht yang masih relevan hingga saat ini. Pemicu yang membuat seluruh dunia menyadari hal ini adalah bagaimana Obama menggunakan internet sebagai platform kampanye pada tahun 2008 dan berhasil menarik perhatian besar terhadap pemilihan umum Amerika Serikat (AS) dari seluruh dunia. Politik AS disorot bukan hal luar biasa, yang luar biasa adalah bagaimana warganet pada saat itu — yang bukan warga negara Amerika Serikat — turut berpartisipasi dalam hiruk pikuk politik praktisnya dengan mengucapkan dukungan maupun cacian dan ikut serta mengisi polling.

Secara otomatis probabilitas keterpaparan global terhadap suatu isu atau fenomena diamplifikasi secara eksponensial melalui kanal media sosial dan “budaya berbagi” yang ekstrim ini. Berbagi adalah suatu hal yang alami bagi kita para zoon politikcon; cara bertahan sebagai spesies yang sangat egois — dibahas oleh Richard Dawkins dalam “Selfish Gene” (1976). Secara alami kita membagikan sesuatu yang dapat menggetarkan perasaan emosional maupun fisik yang kuat, begitu kuat pengaruhnya sehingga kita membagikan informasi yang kita baca sepotong saja. Mungkin kalau kita tilik dari sisi primitif kita, bisa saja hal ini adalah sistem peringatan dini untuk menyelamatkan umat manusia dari ancaman kepunahan. Tetapi apakah berbagi informasi tentang status halal sebuah polimeryang dengan mudah dapat dibuktikan — benar-benar disebabkan oleh getaran emosional?

Pertanyaannya adalah apakah ada kepedulian riil untuk hal ini? Apakah Obama secara langsung mempengaruhi kondisi jalan bolong yang bertahun-tahun ditelantarkan oleh Pemda? Apakah tidak pernah ada yang berpikir bahwa teflon sudah ada sejak 1938 dan belum pernah sekalipun ada yang mempertanyakan status halalnya? Layaknya sebab dotcom-bubble, dengan tsunami informasi yang bergerak begitu cepat, semua orang takut tertinggal kereta investasi tren terkini tanpa merasa perlu ada keperluan untuk memahaminya. Seperti penumpang kereta yang rela ikut kemanapun kereta itu melaju, jatuh ke dalam jurang pun mereka rela. Budaya yang dibangun oleh perputaran informasi yang kilat ini mendorong orang untuk harus ikut beropini hanya karena semua orang beropini. Diskusi bukan lagi untuk mencapai kesimpulan yang mencerahkan tetapi untuk mengadu TOA siapa yang lebih keras.

Andrew Keen sudah pernah mengkritik tabiat ini dalam buku “The Cult of The Amateur” (2007), dan menyalahkan web 2.0 untuk ini. Ok, mungkin Keen sudah menyampaikans sesuatu yang baik, namun ide bahwa semua konten perlu dikurasi oleh sekelompok orang yang mengklaim otoritas atas pengetahuan membunuh konsep dasar internet sebagai media untuk berbagi. Sama saja dengan menyuruh nelayan yang menggunakan racun dan bom untuk tidak boleh memancing sama sekali dan menunggu nelayan profesional untuk memancing untuk mereka — analogi yang aneh memang tapi saat ini terasa masuk akal. Kenyataannya, keberadaan kultus amatir dengan independensi dalam berkarya dan tekonologi telah membuat perjodohan antara produsen karya dengan kelompok seleranya menjadi lebih mudah — dengan segala baik dan buruknya. Yang menjadi isu utama sekarang adalah perihal literasi.

Literasi mungkin bisa diartikan dengan salah kaprah dalam konteks ini ini, jadi memang diperlukan penjelasan lebih lanjut. Literasi yang kita sedang bicarakan adalah kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup (versi KBBI), bukan sekedar membaca dan menulis. Seseorang dapat membaca novel perancis dari sampul ke sampul dengan lancar dan mungkin dapat melafalkannya dengan sempurna. Namun, orang itu bisa saja tidak memahami simbol-simbol yang ia baru saja baca. Pada era internet pita lebar sekarang ini, kita terbiasa mengonsumsi informasi dalam porsi nasi kucing; tsunami informasi dan bah data membuat seolah semua orang harus mengetahui semua hal dalam jangka waktu yang terbatas. Padahal semua informasi dan data yang tersedia sebenarnya membutuhkan waktu yang cukup untuk dapat benar-benar dipahami maknanya. Satu contoh tambahan, semua orang dapat mengakses teori mekanika kuantum, tetapi hanya membacanya tidak berarti orang-orang tersebut dapat menjelaskan apa yang terjadi pada Kucing Schrödinger.

Bagi Pakai Sebagai Pemerataan Produksi Pengetahuan dan Konten

Menggandakan benda fisik sama saja dengan menciptakan ketidaksempurnaan. Jika bukan secara makroskopik mungkin nanoskopik. Pada “benda” digital hal ini tidak berlaku, ya mungkin CD — masih ingat CD kan? — yang digandakan guratannya secara fisik dapat menjadi pengecualian. Namun, guratan itu bukan “benda” digital yang dimaksud, melainkan representasi fisik daripada kode yang membentuk data audio yang terekam pada CD tersebut, dalam bentuk 1 dan 0. Kecuali ada kesalahan saat proses penulisannya, guratan itu akan terbaca sebagai 1 atau 0 sampai level “beda tipis tidak apa-apa, asalkan masih dapat terbaca”. Kenyataan ini membawa penggandaan — atau yang disebut oleh para “pejuang” hak cipta sebagai pembajakan — pada sebuah keniscayaan. Bayangkan memakan seloyang kue tanpa mengurangi — secara teknis — sedikitpun bagian dari kue tersebut. Kue aslinya selalu utuh namun dapat digandakan hingga tidak terbatas. Teknologi seperti ini dapat menjadi mimpi bagi produsen karya, dan memang mimpi yang menjadi kenyataan.

Apa yang dilakukan Bandcamp, Spotify, YouTube, Vimeo, Steam, Good Old Games (GOG.com), dan perusahaan distribusi konten digital lainnya adalah dengan mengeksploitasi keberadaan teknologi ini. Kita mengonsumsi konten tidak lagi dengan mengurangi kuantitas atau kualitas dari karya aslinya. Sebelumnya, untuk mendapatkan konten yang sama kita harus terlebih dahulu membajaknya. Argumen yang diterima saat ini adalah bahwa karena kita mendapatkan sebuah karya tanpa menukarkan sejumlah alat tukar untuk mendapatkannya, maka kita mengurangi nilai nominal dari karya tersebut. Mungkin, tetapi karya itu sama sekali tidak berkurang secara nilai riil untuk konsumennya; apalagi makna karya tersebut. Dengan adanya alat-alat dan standar-standar bagi pakai seperti lisensi bebas, frictionless data, dan web semantik lebih memudahkan untuk warganet memperluas distribusi karyanya tanpa batas.

Terlepas daripada itu, negara merasa bahwa langkah yang terbaik adalah mengendalikan konten dan karya lainnya yang beredar di internet. Salah satu produk yang mengaturnya? UU 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, terutama Pasal 27 ayat 3. Jumlah kasus yang menggunakan Undang-undang ini saat ini menurut SAFEnet Indonesia mencapai lebih dari 200.

Permasalahan utama di sini adalah pemanfaatan undang-undang dan bagaimana mendefinisikan hal-hal seperti apa itu pencemaran nama baik.
Di Amerika Serikat misalnya, pencemaran nama baik HARUS meliputi semua elemen ini:

  • Ada pernyataan oleh seseorang;
  • Pernyataan tersebut dipublikasikan (harus ada pihak ketiga);
  • Pernyataan tersebut menyebabkan cedera;
  • Pernyataan tersebut tidak benar; dan
  • Pernyataan tersebut tidak termasuk hak istimewa.

Mereka juga membatasi hal-hal seperti opini tidak bisa dianggap sebagai pencemaran nama baik dan figur publik harus membuktikan adanya unsur kesengajaan. Hukumonline pernah membahas mengenai pasal KUHP mana saja yang mengatur pencemaran nama baik namun tidak dapat menurunkan regulasi tersebut ke dalam tataran praktis — seakan ada kesengajaan ambiguitas, berbeda sekali dengan Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Model lain dalam pengontrolan konten yang digunakan oleh negara ialah pemblokiran. Saat ini setiap ISP mengacu pada sistem TRUST+TM yang dikembangkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi. Sistem ini kemudian menjadi pusat rujukan utama bagi seluruh penyedia layanan internet. Mereka juga menerima informasi-informasi dari para penyedia layanan ini sebagai alat analisa dan profiling penggunaan internet di Indonesia. Sampai saat ini daftar 1.721.561 pranala yang terdaftar pada sistem tersebut. Banyak juga, tetapi bila kita bandingkan dengan jumlah situs web yang terdaftar pada tahun 2017, daftar tersebut hanya 0,.1% dari jumlah seluruh situs web yang aktif dari seluruh dunia.

Secara global, upaya mengelola internet sudah dilakukan sejak pencetusannya. Internet Engineering Task Force (IETF) dibentuk sejak tahun 1986 yang diawali dengan fokus pada aspek-aspek teknis. Pada tahun 90-an, pengelolaan berpindah fokus pada nama domain, mempertimbangkan pentingnya sebuah nama domain dan dotcom-boom pada masa itu. Maka dibentuklah Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). World Summit on the Information Society (WSIS) yang diselenggarakan di Jenewa (tahun 2003) dan dilanjutkan di Tunisia (tahun 2005) secara resmi mendudukkan tata kelola Internet ke dalam agenda diplomatik Persatuan Bangsa Bangsa. Di WSIS inilah tata kelola Internet (Internet Governance) dibahas dan dielaborasi, dengan keputusan pembentukan Internet Governance Forum (IGF).

Pada akhirnya tata kelola internet sampai saat ini masih diperdebatkan, apakah internet adalah ekstensi dunia nyata? Atau ruang bebas berekspresi tanpa batas?

Namun kenyataannya adalah saat ini kita tidak bisa menganggap aktivitas di Internet terpisah dari aktivitas tatap muka. Karena kita tidak sedang berada di “dunia maya”, kita ada di sini sekarang mengetik, membaca, menonton, mengunduh, dan mengunggah bita. Hanya karena kita menaruh sesuatu yang terpampang di layar bukan berarti kita tidak ikut bertanggung jawab atas apa yang dituainya.

Pada dasarnya internet adalah media pertukaran informasi dan sifatnya digital, dalam hal ini budaya berbagi adalah inti dari keseluruhannya. Bagaimana kita menggunakannya — teknologi, layaknya apapun di muka bumi akan selalu ada pro kontra, kegunaan bergantung pada pemanfaatannya.

Berkaca kembali pada ménage à trois pemangku kepentingan internet, kita juga merupakan bagian darinya, yang membangun konten dan menghubungkannya, pertanyaanya adalah:

Sebenarnya Internet seperti yang kita inginkan?

*Dimuat pertama kali di INF 3.0 “User Manual”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.