Telepon Genggam Selaras Zaman

HapeVS(gsmarena.com) | perbandingan bentuk telepon genggam dari masa ke masa

Kalau tidak langsung paham pada dasarnya gambar di atas menunjukkan bahwa candy bar dan diatas 5 inci mendominasi form factor telepon genggam pada umumnya, inovasi bentuk yang sediamulanya beragam dan untuk berbagai macam fungsi dan tujuan. Pada mulanya tiap orang memiliki form factor kegemaran masing-masing; anak gunung memakai Ericsson R310s ; gagah, tahan banting. Untuk yang lebih ingin tampil cantik clamshell menjadi pilihan karena kemiripannya dengan kotak bedak. Untuk penikmat lagu Nokia dan Sony pernah mengeluarkan music series yang memiliki tombol play yang praktis. Para eksmud? tentu saja Nokia communicator atau Sony ericsson P900. Pilihannya cukup banyak, dan semua orang bahagia dengan individualisme masing-masing. Tiap jenis telepon genggam mencerminkan sebuah lubang intip kepribadian yang menggambarkan usernya. Individualitas melebihi sarung silikon atau casing branded untuk telepon genggam overpriced kalian.

Diversitas telepon genggam sudah mencapai taraf yang dapat dikatakan tidak ada, dan ini bukan hanya di ranah smartphone, tetapi feature phone pun mengalami homogenisasi yang sama.Ya, samsung mencoba bermain dengan inovasi flexible amoled mereka dengan edge series, tapi tidak bisa dibilang form factornya berbeda sama sekali. Ide Edge sebagai inovasi merupakan sebuah ide menarik yang pada awalnya: begitu mencengangkan dengan konsep yang menjanjikan tetapi mengecewakan pada tahap eksekusi.

Pada saat tulisan dibuat, melihat gsmarena.com dari 266 telepon genggam yang keluar tahun 2015 ini (tidak menghitung smart watch) 100% berbentuk candy bar dan di atas 5 inci. Konsumen semakin dipaksa untuk membeli apa yang menurut produsen “baik”, dan “baik” di sini sarkas. Salah satu bukti nyata bahwa “baik” berarti produsen memang rakus dan mencoba menciptakan homogenitas untuk penghematan adalah bullshit yang diutarakan Hugo Barra dari Xiaomi mengenai tidak adanya micro SD di Mi 4i:

“For high performance devices, we are fundamentally against an SD card slot.,

microSD cards are incredibly prone to failure and malfunctioning of various different sorts,

You think you’re buying like a Kingston or a SanDisk but you’re actually not, and they’re extremely poor quality […] it gives people huge number of issues […] You’re gonna blame the phone, you’re gonna blame the manufacturer”

 

 

Yang kemudian dibalas oleh Adrian Kingsley-Hughes dari ZDNET:

“The reason that smartphone manufacturers are ditching micro SD card slots in their devices, especially at the high end, is money. Manufacturers can’t charge a premium for an SD card slot, but they can charge a $100 for a few extra gigabytes of flash storage.

If you like removable batteries and micro SD card slots in your devices, you’re going to find this need harder and harder to satisfy over the coming years.”

Konsumen seakan diangap sebagai ayam broiler yang diberikan pakan secara paksa dan menutup kemungkinan adanya kebebasan memilih, namun konsumen perlu disalahkan juga di sini. Diam-diam — mungkin sekarang lebih terang-terangan — konsumen lebih senang untuk tidak memeliki pilihan. Menurut artikel dari Harvard Business Review konsumen lebih loyal pada brand yang tidak menyediakan opsi terlalu banyak, dan keuntungan lainnya: lebih sedikit opsinya lebih cepat memilih.Untuk produsen ini masuk akal, lebih sedikit produknya dan lebih cepat mengeluarkan “versi barunya” (artikel ini mungkin sulit dimengerti tapi pada dasarnya mengubah quadcore menjadi octacore mulai tidak berguna karena pada dasarnya kita sudah mencapai batasan kecepatan prosesor).

CPU-Scaling(extremetech.com) | abaikan ini, atau buka depan teman-teman biar terkesan intelektual

Laptop misalnya, dengan berbagai macam pilihan dan spesifikasi dan design dan warna konsumen akan memakan waktu yang jauh lebih lama untuk menentukan pilihan. Tentu saja opsi dalam memilih akan jauh lebih mudah apabila semua laptop berbentuk seperti… talenan.

talenan(lenovo.com) (stonecontact.com) | cari 5 perbedaan  (iya, sudah lelah membully Apple)

Dari sudut pandang produsen lebih lama dalam memilih produk berarti sales per kurun waktu yang semakin melemah, meskipun mungkin dalam hal volume  maupun market share keseluruhan tidak ada pengaruh signifikan. Terbukti bahwa laptop (sebagai alat produksi) memiliki keragaman dan pasarnya tidak pernah terancam oleh keragaman itu. Mungkin asumsi bahwa telepon genggam dilihat sebagai alat konsumsi informasi merupakan salah satu faktor penjajahan produsen — dan salah satu alasan juga untuk menyalahkan lagi konsumen. Konten yang keluar dari rata-rata pengguna mobile pun masih berupa foto kucing dan apa yang sedang dimakan, belum lagi kooptasi media dan brand besar terhadap media sosial yang menyebabkan user generated content yang amatiran menjadi banal. Mobile sudah hampir menjadi pilihan konsumsi rekreasi semua orang, dan rekreasi yang begitu praktis karena bisa menikmati hiburan on-the-go. Pada dasarnya tingkat konsumsi rekreasi di telepon genggam dapat mengubah fungsinya sebagai alat komunikasi (dua arah) menjadi perangkat yang digunakan untuk sepenuhnya mengkonsumsi seperti TV dan mengebiri kemungkinan adanya inovasi teknologi komunikasi publik yang signifikan.

Jadi mungkin telepon genggam memang selaras zaman, tetapi zaman ini sudah menjadi seller’s market dan dalam taraf yang cukup ekstrim, illusion of choice dibawa kepada tataran yang tidak masuk akal karena pada akhirnya pilihan perangkat menjadi sia-sia: semuanya sama. Kalau bukan karena gengsi mungkin konsumen akan jauh lebih memilih hp low-end seperti  android one. Ya ga gitu juga sih, tapi semacam itulah.Pada saat konsumen mulai memahami price-performance dari perangkat yang mereka gunakan, barulah konsumen sesungguhnya paham dalam berteknologi.

Sementara itu, untuk sedikit adil, harus diakui produk seperti Yotaphone sedikit memberikan kesegaran dengan dual screen e-ink dan amoled — meskipun mempertahankan bentuk candy bar — namun menginovasi cara user menghemat baterai, namun Yotaphone mungkin bisa dikatakan produk yang cukup independen, pembiayaannya saja menggunakan indiegogo dan sangat beda apabila dbandingkan Samsung,LG, Sony, maupun NOKIA. Di sisi lain ada Project Ara yang merupakan besutan google dan motorola tetapi terinspirasi dan bekerja sama proyek kickstarter phonebloks. Tetapi mungkin saja itu memang jawaban dari inovasi: perusahaan-perusahaan kecil yang berani mengganggu pasar dan merangsang perubahan.

 

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *