Merekam Jejak Pribadi, dari 1984 sampai 2016

Bagian 2 dari seri “Basa-Basi tentang Privasi”

Privasi diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai kebebasan atau keleluasaan pribadi. Terdengar terlalu sederhana meskipun konsep yang melekat cukup kompleks. Jika dibayangkan sebagai sebuah ruang fisik, privasi seperti kamar pribadi di mana kita bisa dengan leluasa melakukan apa yang kita mau dan orang lain tidak bisa masuk sembarangan atau melihat apa yang sedang kita lakukan di dalamnya. Sekarang bayangkan jika kamar tersebut dibuka dan orang lain dipersilakan untuk masuk, menyentuh atau sekadar mengamati benda-benda yang ada di kamar. Dalam kedaan tersebut, masih mungkinkah kita melakukan apa yang kita mau dengan leluasa?

Meskipun batasan ruang dan pemaknaan apa yang dianggap “privasi” bervariasi bagi setiap budaya, tempat, atau individu, ada satu benang merah yang bisa dipahami. Ketika satu hal dianggap sebagai privasi, hal tersebut pasti merupakan sesuatu yang spesial, penting, atau sensitif bagi seseorang dan tentunya tidak ingin diketahui oleh orang lain. Bisa kita refleksikan kembali, adakah informasi atau “sesuatu” yang menurut kita sensitif atau penting dan tidak ingin diketahui orang lain tapi kita pernah (atau sedang) memberikan hal tersebut ke sebuah situs atau layanan gratis (dan berbayar) di Internet? Jika informasi seperti alamat email, alamat rumah, tanggal lahir, alamat kantor, nama orang tua, posisi terkini, dsb, dianggap bukan informasi yang sensitif atau memang boleh diketahui orang lain dan disebarluaskan seluas-luasnya, berarti privasi bukanlah masalah yang berarti. Namun setidaknya, perlu diingat bahwa privasi juga bukan konsep yang eksklusif dan hanya sebatas persoalan pribadi. Kecuali seseorang hidup soliter dan tidak terhubung sama sekali, privasi yang dimiliki seseorang tidak terlepas dari privasi orang lain yang berhubungan dengannya. Singkatnya, jika informasi kita diketahui oleh seseorang, besar kemungkinan informasi tersebut juga mengandung informasi terkait orang lain.

” Di luar drama tentang etika atau konsekuensi […] ini mengingatkan kita semua pada satu hal, tidak ada data yang benar-benar aman.”

Terkait data dan privasi, ada sebuah kasus yang cukup menggemparkan dunia maya di bulan Juli 2015. Ashley Madison(AM), sebuah situs yang memfasilitasi orang untuk melakukan perselingkuhan diretas oleh kelompok yang menamakan diri mereka The Impact Team. Kelompok tersebut meretas seluruh data pengguna AM dan mengancam akan membocorkan data para penggunanya jika AM tidak menutup situsnya dan situs lain yang termasuk dalam perusahaan induknya. AM mengatasnamakan situs mereka sebagai situs yang superaman untuk mencari pasangan yang mau diajak selingkuh. Para anggota harus membayar layanan ini dengan cukup mahal ($19 di awal dan lebih untuk selanjutnya) dengan jaminan bahwa mereka bisa beraksi dengan aman tanpa takut diketahui oleh orang lain. Fakta pun berkata lain, peretas berhasil menjaring puluhan giga data alamat email, rumah, dan nomor telepon milik para pengguna dan kemudian mempublikasikannya dalam sebuah situs di mana pengunjung bisa mencari nama anggota yang diinginkan. Ya, bisa saja anggota memalsukan email dan informasi pribadi lainnya, tapi bagaimana dengan data kartu kredit yang kemungkinan besar mengandung informasi sebenarnya (walaupun mungkin juga dipalsukan)? Di luar drama tentang etika atau konsekuensi yang ditanggung para anggota AM, insiden ini mengingatkan kita semua pada satu hal, tidak ada data yang benar-benar aman.

Jejak Data & Pengawasan: Teman Baik

Pembahasan tentang privasi juga tidak pernah lepas dari hubungannya dengan pengawasan (surveillance), terutama ancaman pengawasan dari pihak yang berkuasa. Wajar saja jika popularitas Snowden sebagai buronan pemerintah Amerika Serikat seolah membenarkan ramalan George Orwell dalam novel 1984. Kekhawatiran bahwa ada penguasa yang akan mengintai gerak-gerik seluruh masyarakatnya dengan sengaja, sehingga seluruh informasi sensitif bisa dijadikan amunisi untuk menekan, mengancam, dan menangkap siapapun yang membangkang. Membayangkan distopia seperti 1984 mungkin terlalu menyeramkan, toh sekarang tahun 2016 dan tidak semenyeramkan situasi yang digambarkan novel tersebut.

Seorang ilmuwan komputer bernama Philip Agre pada 1994 meramalkan model kontrol dan privasi yang ia sebut dengan Capture Model. Sebagai alternatif dari wacana dominan Surveillance Model, Capture Model menekankan pada perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan komputer untuk merekam dan mengikuti jejak sebuah benda atau seseorang. Capture Model tidak begitu nampak seperti pengawasan yang dilakukan intel atau detektif, model ini lebih terselubung dan seolah bukan sesuatu yang buruk. Ada jutaan orang yang yakin bahwa berbagi lokasi terkini melalui platform media sosial tidak berbahaya. Mengunggah semua foto kegiatan terbaru bersama teman-teman tidak akan jadi soal. Walaupun sebenarnya teknologi yang dimiliki oleh berbagai platform sosial media atau mesin pencari menerapkan Capture Model tersebut. Facebook bisa mendeteksi wajah seseorang dan mengasosiasikannya dengan profil orang tersebut. Google bisa mempelajari kebiasaan dan kecenderungan penggunanya hanya melalui kata kunci. Sedikit dan sesederhana apapun informasi yang kita berikan, seluruhnya akan terekam, tersimpan, dan bahkan bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.

“Jika Anda berpikir isu privasi bukan sesuatu yang penting, setidaknya perusahaan-perusahaan tersebut merasa informasi Anda sangat penting bagi mereka.”

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh ACCESSNOW mengungkapkan bahwa provider ponsel di 10 negara menggunakan tracking headers untuk mengikuti jejak para penggunanya. Tracking headers tersebut dimasukkan tanpa sepengetahuan pengguna dan dilakukan dengan berbagai cara. Padahal ponsel merupakan perangkat yang paling banyak digunakan untuk mengakses Internet. Terlepas dari batasan yang bervariasi secara kultural mengenai privasi, teknologi lacak memberikan satu kemampuan mutlak yang bisa dimanfaatkan untuk membahayakan kehidupan seseorang. Ada beberapa pertanyaan yang muncul seperti: apakah mungkin ada yang mengikuti jejak saya? Memang apa untungnya merekam data dan membuntuti saya setiap saat?

Kenyataannya bukan mungkin atau tidak, tapi mereka (penyedia layanan, pemerintah, dll.) bisa melakukannya dan tentu saja menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya dari aktivitas tersebut. Jika Anda berpikir isu privasi bukan sesuatu yang penting, setidaknya perusahaan-perusahaan tersebut merasa informasi Anda sangat penting bagi mereka.

 

Baca juga:
“Jangan Ada Privasi di Antara Kita”

One Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *