QWERTY dan (Re)produk(si) Kemalasan

Mungkin tak banyak yang bertanya-tanya mengapa desain keyboard QWERTY demikian adanya dan bukan dalam susunan lain seperti A-B-C-D-E, misalnya, yang seharusnya jauh lebih mudah untuk digunakan. Desain QWERTY pertama kali dipatenkan oleh Cristopher Latham Sholes, seorang penulis dan juru ketik di Milwaukee, Amerika Serikat, pada tahun 1868. Desain ini ternyata dibuat untuk memperlambat kecepatan mengetik dengan mengacak susunan huruf alfabet agar stik dari tiap huruf di mesin ketik tidak macet karena tempo pengetikan yang terlalu cepat. Desain ini terus bertahan dari masa ke masa bahkan hingga saat ini ketika kita tidak lagi bermasalah dengan stik huruf di mesin ketik.

Prosesor komputer terus berubah dan semakin canggih, masyarakat Amerika menggandrungi Macintosh sementara masyarakat Indonesia menjadikan Windows sebagai standar dalam kurikulum pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, namun keduanya tetap menggunakan desain QWERTY. Terlebih lagi di era smartphone (mulai dari Blackberry, iPhone, sampai Android), dimana sebenarnya QWERTY jelas sudah tak efektif. Meskipun demikian, kalau anda menganggap bahwa kali ini penjelasan bahwa QWERTY memiliki citra modern (karena menjadi simbol kelas menengah yang melek teknologi) sudah cukup memuaskan untuk menjawab mengapa desain QWERTY masih terus bertahan hingga saat ini, maka sepertinya anda perlu membuka Google dan mengetikkan dua kata kunci: QWERTY dan phenomenon. Hasilnya sungguh mencengangkan. QWERTY phenomenon, atau fenomena QWERTY, adalah kecenderungan untuk terus menggunakan sistem atau produk yang tersedia dari awal meskipun terdapat gagasan atau teknologi baru yang menjadi alternatif yang lebih baik.

Desain QWERTY ternyata telah sejak lama mengundang banyak perdebatan karena dianggap rumit, menyusahkan, dan tidak efektif untuk mengetik cepat. Kalau memang saat ini kita tidak lagi bermasalah dengan pita mesin ketik, maka akan jauh lebih mudah untuk mengubah desain papan ketik di seluruh dunia dalam urutan abjad yang normal, a-b-c-d-e, atau inovasi-inovasi keyboard lainnya yang lebih efektif. Memang ada berbagai desain papan ketik lain yang pernah mencoba menyaingi superioritas QWERTY; seperti Dvorak, AZERTY, dan QWERTZ. Namun sampai sekarang desain-desain tersebut hanya menjadi alternatif dan QWERTY tetap superior meski dengan menggunakan Dvorak seseorang bisa mengetik 150 hingga 200 kali lebih cepat.

Jika menciptakan desain papan ketik baru adalah suatu hal yang sulit untuk dilakukan, maka mengubah kebiasaan masyarakat di hampir seluruh dunia untuk beralih dari QWERTY ke Dvorak, misalnya, menjadi suatu hal yang jauh lebih sulit. Gagalnya Dvorak, AZERTY, dan QWERTZ sudah cukup untuk membuktikannya. Jauh lebih mudah untuk tetap bertahan dengan desain QWERTY meski terkadang jari kelingking kita jadi terasa pegal sekali dan kita tidak sadar dalam jangka waktu yang panjang kita bisa menderita sindrom Carpal Tunnel. Tapi siapa peduli?

Mengubah QWERTY adalah suatu upaya yang sangat mahal. Begitu banyak waktu, usaha, dan uang yang harus dikeluarkan untuk membuat dan mempopulerkan desain baru yang harus menggantikan desain QWERTY yang diproduksi secara massal setiap harinya di seluruh dunia. Tidak hanya pabrik komputer, laptop, dan ponsel saja yang akan repot untuk mengubah desain dan mesin, bayangkan juga berapa banyak sekolah yang harus mengubah kurikulum pelajaran komputer mereka, berapa banyak rumah yang harus membeli komputer baru, berapa banyak bank yang harus mengubah sistem dokumentasi, dan sejumlah dampak lainnya. Kita terlalu malas untuk beranjak dari sistem QWERTY dengan berbagai alasan teknis. Hal ini yang sesuai dengan yang dikemukakan oleh Brittany Pladek: bahwa pelestarian QWERTY (dari masa ke masa) adalah produk dari kemalasan manusia.

Sedikit ironis ketika menyadari bahwa desain QWERTY yang memberikan citra modern ternyata adalah produk kemalasan manusia? Dan bukankah lebih ironis lagi ketika menyadari bahwa kemalasan ini terus menerus direproduksi setiap harinya? Smartphone yang ada di tangan anda, teman anda, atau mungkin sejumlah besar orang di seluruh dunia yang menggunakan keypad QWERTY ternyata merupakan “penjajahan” dari suatu sistem yang tidak efisien. QWERTY dianggap remeh dan kita belum penah tergerak untuk beranjak menuju teknologi yang lebih menguntungkan. Ketika smartphone hadir beranak-pinak dengan beragam kecanggihannya, desain QWERTY yang tidak berubah selama 142 tahun pun tetap bertahan.

Meskipun kini sejumlah aplikasi di smartphone memang mulai menawarkan pilihan keyboard di luar model QWERTY, namun mengubah kebiasaan dan mindset atas QWERTY tak semudah mengunduh dan meng-install aplikasi. Maka, kita sesungguhnya tengah mengkonsumsi salah satu teknologi paling usang yang pernah bertahan dalam sejarah peradaban umat manusia. Tulisan ini hanya mencoba memaparkan suatu ironi di balik desain QWERTY pada ponsel. Memangnya anda kira, saya mengetik tulisan ini dengan apa lagi kalau bukan dengan papan ketik QWERTY?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.