Platform Kencan: Jomblo No More atau PHP Everlasting?

Awalnya saya ingin membuat artikel review yang membandingkan Badoo, Tinder, BeeTalk, Setipe, OK Cupid, dan yang terbaru Yogrt. Tapi setelah mencoba dan beberapa pengakuan dosa teman-teman mengenai platform — suka duka, kisah sukses, serta awkward tingkat tinggi — ada panggilan yang lebih tinggi untuk mengeruk fenomena ini lebih dalam. Tetapi karena itu too much effort saya tetap akan membuat review singkat.

Masalah platform kencan adalah ini: situs kencan=lame.

Ada stigmatisasi bahwa yang mendaftarkan diri di platform online adalah menyedihkan dan forever alone, maksudnya, interaksi macam apa itu? Platform yang diciptakan khusus untuk orang-orang kesepian yang terlalu sibuk untuk mencari teman kencan sama sekali tidak cool.

Namun cukup banyak orang yang menggunakannya. OkCupid saja menampilkan baris demi baris perempuan dewasa muda hingga paruh baya — validitas foto, umur, dan bahkan kelamin tentu dapat dipertanyakan. Jadi stigma lame ini bilapun benar dipertanyakan kesungguhannya apakah memang benar-benar demikian? Lalu kenapa begitu banyak perempuan yang menarik secara visual di platform-platform tersebut? Mungkin banyak kisah sukses, saya dapat kabar seorang pasangan yang berkenalan melalui Tinder akan  menikah minggu depan, jadi ya ga buruk-buruk amat.

Namun sebelum kalian langsung buru-buru download appsnya dan registrasi perlu diketahui bahwa, dating melalui platform online tidak untuk semua orang, disclaimer terpenting adalah — bagi yang socially challenged — kalian akan berinteraksi dengan manusia. Tidak semua orang di platform kencan adalah pervert atau menjajakan dirinya. Banyak yang manusia normal yang tidak memiliki waktu dalam kesibukannya untuk berinteraksi dengan orang lain.

Beberapa platform untuk saya mengecewakan, sampai saat ini yang cocok dengan saya menurut setipe.com hanya dua orang, itu sudah hampir 6 bulan. Antara situs itu tidak laku atau memang saya terlalu “unik”. Pertanyaan psikologis yang tiada habisnya mungkin sedikit memfilter orang untuk masuk, sistem notifikasi yang tidak berjalan dengan baik juga mungkin menyumbangkan itu. Namun saya tetap percaya bahwa saya memang cukup unik sebagai teman kencan.

Yogrt membawa saya tertarik untuk mengirimkan quiz untuk seorang perempuan menarik yang mengaku dirinya penulis dan artsy, saat saya kirimkan potongan lirik Los Campensinos! dijawabnya The Smiths, yah okelah dia mungkin menonton 500 Days of Summer, no complaints. Lalu untuk mengafirmasi ketertarikan menulisnya saya coba kirimkan penggalan tulisannya Nick Hornby dari A Long Way Down, jawabannya blue… Saya masih belum berani bertanya apakah ini blue warna atau dia sungguh berpikir boyband inggris itu adalah kumpulan sastrawan. Permasalahan di Yogrt juga isinya kebanyakan adalah teman-teman saya sendiri, menghilangkan serunya keasingan.

Badoo adalah makhluk unik dalam artian taglinenya sesuai; kita benar-benar didukung untuk menemui orang baru. Platform ini salah satu yang banyak sekali penggunanya, entah mengapa. Pengalaman saya menggunakan ini adalah di like ama trans seksual. Paling tidak saya tahu saya bisa masuk tipologi yang disukai trans seksual, cukup tahu. Ada stigma bahwa platform kencan ini digunakan untuk mencari pasangan seks sementara, namun saya belum dapat mengkonfirmasi ataupun menyangkal informasi tersebut. Badoo unik karena orang cukup terbuka dalam kejatian dirinya, saat mereka trans seksual ya mereka akui mereka trans seksual tidak ada upaya menutupi tidak ada upaya berkelit. Keterbukaan ini membuat platform ini seru, variasi manusia yang ada di Badoo beragam sekali, dan ada modal openness yang cukup besar untuk dapat aktif di platform tersebut.

Tinder mengikuti filosofi hot or not, mengedepankan aspek visual sebagai tolok ukur utama pertimbangan kencan. Dengan interface yang mengharuskan seseorang dilike atau disingkirkan seakan-akan memaksa pengguna untuk menjudge apakah ia mau kencan dengan seseorang atau tidak, pemilu aja bisa golput — ya kamu bisa golput, itu hak! eh, ngomongin apa tadi? O, iya, kewajiban integrasi dengan Facebook merupakan kekuatan dari platform ini, bahwa verifikasi identitas diserahkan pada servis eksternal melepaskan beban Tinder dari mencari tahu kebenaran keberadaannya penggunanya, ini pintar. Ini mungkin salah satu yang membuat Tinder menjadi platform kencan yang lumayan populer di Indonesia.

Jakarta Post baru saja mempublikasikan sebuah artikel bahwa Jakarta merupakan kota yang justru mendukung budaya kencan online. Dari animo tersebut kelihatannya ini baru permulaan, dengan masalah jam kerja, kemacetan, dan problema penglaju, kencan online dapat menjadi alternatif bagi masyarakat megapolis menuju necropolis ini. Dunia kencan lokal tradisional sudah cukup kompleks dengan tata krama dan tata cara kencan yang rigid (seperti laki-laki yang harus membayar, harus menjemput, perempuan harus berdandan, submisif, dan stereotip lainnya) dengan alternatif seperti ini, mungkin kansa perkencanan dapat meningkat.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *