OpenSource: Bebas, Bukan Gratis

Ok, jadi ini menunjukan keterbatasan linguistik bule, bahwa kata free dalam free software bermakna ganda: free as in freedom (bebas) dan free as in gratis (gratis), kita sebagai golongan konsumen, maunya free as in gratis melulu – yang menurut saya pribadi sangat logis. Lalu ini membuat opensource menjadi sebuah kata angker untuk beberapa orang. Pertanyaannya adalah ini, “kalau kita opensource, darimana dapet duitnya?” ini adalah apa yang disebut scarcity mentality (nope, bukan fans Stephen Covey, belum baca bukunya, tapi konsepnya asik, jadi dipinjam) ada kecemasan bahwa semua orang akan mencoba mencelakai, mencuri, mensabotase sumber daya terbatas jika diberi kesempatan, dan membangun sesuatu yang opensource akan pasti merugikan, dengan GR mereka berucap: “pasti akan ada yang nyolong ide ini”.

“siapa coba yang waras yang mau ngasih uang ke proyek yang semua orang bisa liat jeroannya?? mana ada untungnya begitu?”

 

Ini open source

Ini juga opensource

Iya, opensource

dan survey membuktikan... opensource

 

wew, opensource

“…oh”.

Kekuatan dari opensource adalah komunitasnya dan produk yang berkualitas [http://www.techdrivein.com/2010/08/11-biggest-open-source-success-stories.html]. Mitos yang beredar adalah bahwa opensource itu tidak bisa menghasilkan, tetapi sesungguhnya opensource hanya sekedar model bisnis alternatif. Keyakinan bahwa opensource harus gratis akan menjadi penghambat terbesar pengembangannya. Ada banyak lagi contoh kasus yang menunjukan bahwa opensource bisa menjadi sumber kapital yang masuk akal.

Oh, dan opensource tidak hanya terbatas pada software.

Source di sini adalah ide dan informasi, source disini adalah teks, nada, guratan kuas, racauan, brainstorming, diskusi, rencana, kode, metode, resep, cetak biru, desain, akor, warna, bebunyian, aspirasi, data, dsb. Dasar pemikiran bahwa sesuatu itu terbatas/membutuhkan modal sehingga kita harus menjaganya sekuat tenaga mungkin dapat berlaku dalam ranah fisik, tetapi menjadi konyol dalam ranah ide.

Kasus 1: Semisal dosen memberikan sebuah ceramah mengenai sebuah proyek yang dilakukan di sebuah daerah, menggunakan informasi tersebut mahasiswa mereplikasikan ceramah tersebut dengan modifikasi yang kontekstual dengan daerah baru itu. Apakah dia mencuri dari dosen ini?

Kasus 2: Sebuah label rekaman menjual musik secara online, pembeli lalu meremix dan mendistribusikan ulang lagu itu. Apakah dia mencuri musik itu?

Pada hakikatnya, tidak untuk keduanya, secara hukum: ya untuk nomor 2 dan ya dan tidak tergantung apakah dosennya menuntut pada nomor 1. Perdebatan yang sering terjadi – dan secara pribadi sangat tidak setuju – adalah ini: “Orang mencuri ide berarti mencuri keuntungan potensial dari pemilik hak cipta (bukan selalu pencipta) ide tersebut”. Eh, gimana? Keuntungan “potensial”? Mau beli buku/CD aja ga bisa karena “publishing rights/distribution market/terminologi lain yang mengingatkan kita negara dunia ketiga” untuk indonesia belum ada. Terus dibajak marah gitu? Nyet, kalo ga dibajak orang aja ga bakal tau ada buku/CD itu!

*ehem. Permasalahan utamanya adalah kita memperlakukan ide dan informasi seakan-akan itu adalah sumber daya terbatas, ada kepercayaan atas pengagungan ide dengan asumsi bahwa ide muncul dari individu satu orang dan bahwa tidak mungkin ada orang lain yang memikirkannya. Ribet ya? Ga juga sih.

Bayangkan ini: pada saat kita menjual sepatu kita akan memprakirakan ongkos yang keluar untuk bahan, design, banyak ukuran, etc. tetapi saat kita melakukan produksi untuk model sepatu yang sama untuk kedua kalinya, design sudah tidak lagi menjadi bagian ongkos produksi, mengurangi cost dan menambah profit. Perhatikan bahwa elemen yang hilang adalah elemen ide. Setelah dicanangkan, ide dapat direplikasi secara terus menerus tanpa cost tambahan. Karena ide adalah opensource.

Tetapi bukan berarti setelah Ide itu keluar maka tidak mungkin digunakan lagi, ide itu sendiri memiliki value yang dapat dikapitalisasi. Misalnya deslainer sepatu ini mengimplementasikan filosofi desainnya pada produk-produk lain atau mengadakan training/seminar bagaimana cara mendesain sepatu, atau lain sebagainya. Bahkan tidak perlu ide sendiri, SuSe dan Redhat Linux menjual kembali apa yang pada awalnya merupakan ide Linus Torvalds, sebuah kernel operating system. Mereka mereplikasikan idenya dengan mengemas ulang kernel itu bersama added value dan support system yang berupa training, instalasi, dan maintenance. Torvalds pun mendapatkan uang dari memaintain kernel utama Linux dan pada prosesnya Red Hat dan SuSe mengiklankan kerja keras Torvalds.

Ketakutan akan sebuah maling ide hanyalah, menurut saya pribadi, kemalasan perusahaan/pencipta/pemilik hak cipta/produsen dalam berkarya; ia ingin ide dihargai berulang-ulang tanpa ada inovasi maupun kompetisi, sesederhana upaya penghalalan monopoli.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *