Oh, dan mengenai Linux…

Artikel ini bukan sebuah argumen untuk menggunakan Linux, atau memperdebatkan penggunaan GNU dalam GNU/Linux, atau jelas bukan artikel-artikel perkenalan Linux, atau merendahkan OS (operating system buat n00bs di luar sama) lain.

7b8b6f87a31b166e35375e19b161da4d

OK mungkin untuk merendahkan OS lain.

Nggak, ini tidak akan membahas Android, ini mayoritas akan membahas tentang Linux sebagai desktop, bagaimana sebuah OS bisa begitu terbelakang namun pada dasarnya ini sebuah artikel berbagi pengetahuan oleh seorang pengguna Linux selama lebih dari 10 tahun, dari menggunakan command make yang dapat menghancurkan sistem hingga 1-click-install yang tidak dapat menemukan dependancy. Jadi iya, Linux sedikit cacat. Ralat, Linux sangat cacat.

Tapi pada dasarnya tidak ada OS yang tidak cacat. Berapa kali Windows bermasalah dengan dll dan driver? Berapa kali OSX bermasalah dengan Airport, Photos, atau HDD eksternal?

Lalu? Kenapa Linux?

Gratis… dan pilihan untuk aneka ragamnya begitu banyak. Pada pertengahan tahun 2000-an distribusi Linux desktop mulai menjamur dan untuk tidak mengikuti tren ini terasa kurang seru. Dengan broadband bertarif bulanan mulai masuk, mendownload distro (distribusi linux) tidak perlu terlalu khawatir pada tagihan Apalagi pada saat itu PC jangkrik sedang menggila dan harga komponen sudah relatif murah pada saat itu. Entah berapa harddisk harus diformat ulang karena keseruan itu. Dari Ubuntu awal, openSUSE, hingga Mandrake (sekarang mandriva). Opensuse menjadi favorit karena YaST dan Zypper yang membuat instalasi aplikasi semudah itu.

Pada saat kuliah PC di kosan menggunakan Ubuntu (kalau tidak salah versi 10.04 Lucid Lynx), dan inilah momen yang membuktikan Linux itu sekeren itu. pada saat itu ada wabah virus W32/Brontok yang menjangkit flashdisk melalui tempat ngeprint di kampus. Virus ini “menghilangkan” file-file di flash disk, tapi tidak benar-benar menghilangkannya, yang dihapus hanya index dari file tersebut sehingga tidak bisa dibaca di Windows tapi tidak masalah di Linux. Untuk membersihkan virusnya tinggal mengopi semua data dari flashdisk ke hard disk lalu mengembalikannya. Index ditulis kembali lalu yasudah file kembali tanpa cacat.

Sayang waktu itu tidak memberikan tarif, mungkin bisa dipakai untuk  bayar kosan.

Namun pada saat itu juga belajar bahwa Adobe Photoshop dan Coreldraw bukan harga mati. hmm, subjudul bagus tuh.

Adobe Photoshop dan Coreldraw Bukan Harga Mati!

Agak pretentious dan kepanjangan ya ternyata. Pada saat kuliah karena biasalah anak kuliahan mencari sidejob dan kemampuan membuat design pas-pasan. Tapi PCnya Linux. Sebelumnya memang sudah pernah menggunakan gimp (semacam Photoshop) dan inkscape (semacam Coreldraw), tetapi untuk benar-benar sebagai alat produksi baru pada saat itu. Sebenarnya ini tidak terbatas pada penggant adobe dan coreldraw — yang gratis dan stabil — tetapi berbagai macam aplikasi pengganti. Untuk pengulik musik, ada Ardour dan LMMS, untuk mengetik, spreadsheet, presentasi, membuat flowchart, dsb ada libreoffice, untuk game ada Steam dan bisa main Dota 2! Pada dasarnya komunitas opensource sudah mulai dilirik oleh perusahaan-perusahaan besar.

gimpps

Ardour misalnya, didanai oleh Harisson Mixbus perusahaan mixer yang mengembangkan software berdasarkan Ardour dan Ardour mendapatkan bagian dari penjualannya. Apple mendukung CUPS — sebuah printing system untuk Linux– dengan membajak pengembangnya, Michael Sweets, dan membeli hak ciptanya. AMD mendukung penuh openSUSE dan mengembangkan driver untuk kartu grafisnya  khusus untuk Linux. Sama halnya dengan Nividia, driver mereka secara berkala sudah diupdate untuk mengakomodir Linux. Epson memiliki halaman bantuan khusus LinuxDukungan ini lebih jelas pada tataran Linux Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang menggalang dana untuk proyek-proyek opensource yang berkontribusi pada perkembangan teknologi, termasuk Linux tentunya.

Secara Utuh Terkonversi

Baru pada tahun 2011 setelah resign dari pekerjaan yang menantang namun tidak menarik dan mulai freelancing, berpindah 100% pada OpenSUSE. Intinya adalah mengunakan OS yang bebas distraksi tapi cukup powerful untuk melakukan segala macam hal. Namun, bebas distraksi itu mitos, karena pada tahun 2012 Steam ikut bermain di Linux, meluluhlantakkan semua harapan untuk bekerja secara non-prokrastinatif.

screenshot_20160921_132813

Tetapi sejak memaksakan diri untuk tidak lagi dual boot, semua kekhawatiran tidak menggunakan OS proprietary menghilang. Ketergantungan terhadap aplikasi bajakan secara eksponensial menurun. Semua yang dulu dilakukan pada Windows dilakukan di Linux — kecuali main games AAA. Karena mayoritas pekerjaan pada saat itu memang di ekosistem Google, maka kebutuhan lebih besar pada browser saja, namun tetap dibutuhkan beberapa aplikasi yang ternyata sudah dikembangkan untuk linux. Mulai dari situ pencarian aplikasi-aplikasi pengganti yang biasa digunakan di Windows satu per satu dipenuhi.

Linux Tetap Cacat

Permasalahan terbesar dari linux adalah bahwa — dan ini sudah berkali-kali diulang — bahwa terlalu banyak distro, distribusi dari linux dengan fitur dan aplikasi yang berbeda-beda. OpenSUSE misalnya, memiliki alat konfigurasi yang kelas, Ubuntu sangat mudah dalam kompatibilitas aplikasi dan hardware, SolydX/K mudah sekali penggunaannya, Linux mint dedesain untuk pengguna awal Linux, centOS sangat bagus untuk server, elementaryOS… cantik… ok ini mungkin OSX untuk orang yang beraspirasi memiliki OSX tapi tidak mampu atau pelit, ga ngejudge kok. Tapi mungkin memang tidak bisa ada satu distro yang bisa melakukan semuanya, mungkin mengusahakan sebuah linux yang tersentralisir membunuh semangatnya sendiri.

Lepas dari banyaknya derivasi OS, meskipun semakin banyak dukungan aplikasi hal tersebut tidak membuat berkurang daftar cacatnya. Pada Chrome browser misalnya, di openSUSE fitur drag-and-drop pada google drive tidak bekerja, sedangkan pada Firefox berjalan dengan lancar. Hal ini ke arah konyol. Untuk menginstall driver untuk Epson L565 harus memilih driver Epson L455. WTF? Library memiliki begitu banyak versi dan kadang satu versi tidak kompatibel dengan aplikasi yang membutuhkan versi lainnya. Tetapi demokrasi di dalam komunitas Linux, seperti komunitas open source lainnya, membangun pemahaman yang lebih mendalam tentang OS. Pada saat bertanya di forum, meskipun dengan bahasa Inggris terbata-bata, niscaya — karena semangat kepemilikan-sama-rata-sama-rasa-global — akan ada yang menjawab doa kita, dan trial by error seperti ini membangun khazanah kita mengenai OS dan aplikasi yang kita gunakan. Kita sudah terlalu terbiasa dengan — kita di sini maksudnya kalian — software blackbox yang tidak bisa kita modifikasi tidak bisa kita pelajari dan memberikan kesempatan bagi penipu  — seorang teman pernah ditagih 500 ribu untuk menginstall Microsoft Office bajakan — hingga kita terima saja apa yang dijejali oleh developer mereka kepada kita.

Setidaknya kecacatan Linux masih teratasi dengan opsi bahwa kita bisa seenaknya mengganti distro dan mencari yang cocok untuk kita, ada pilihan untuk mencari distro yang sebebas mungkin untuk dimodifikasi tampilannya secara mudah oleh pengguna (semua distro yang menggunakan KDE) hingga yang sangat tertutup (ElementaryOS/Ubuntu).

Pengganti OS Proprietary

Akhir kata, Linux dan segala derivasinya adalah pengganti yang baik, di balik segala kecacatannya, tidak terlalu besar cobaannya dibandingkan memakai Windows, ya, It Just Works™ aja — dalam artian untuk ekosistem bekerja, belajar, dan bermain yang produktif. Semakin banyak yang menggunakan Linux semakin besar kemungkinan bugs dan cacat dan kompatibilitas terselesaikan. Setidaknya ada semangat global untuk memiliki suatu bersama.

Atau ya.. ya gratis aja sih yaudahlahya terima aja.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *