Media yang Semakin Maya

“CDnya keren nih, pinjem ya, mau gw rip dulu”
“Seriesnya ada mentahannya ga?”
“Udah nonton belum, pinjem FD lo sini gw copy-in”

— kata-kata yang tak akan kita dengar lagi

Perkembangan teknologi dan mentalitas broadband sudah mengambil alih sehingga streaming – sebagai orang yang pragmatis – adalah jalur yang paling masuk akal. Ini menarik karena pada akhirnya kita tidak lagi “memiliki” konten yang dikonsumsi tidak ada bentuk fisik maupun abstraksi bentuk fisik yang kita pegang. Bahkan file mentahan sekalipun, malahan mungkin beberapa tahun ke depan kita tidak akan menggunkan kata mentahan lagi bukan berarti bahwa file mentahan, tetapi kita kehilangan nampan untuk menyajikan konten tersebut, artinya, berbagi menjadi tidak seindah dahulu.

Streaming Sebagai Siasat Storage Space

Streaming tidak membunuh pembajakan sama sekali (yay!), camkan ini. Tetapi streaming mengubah perilaku konsumsi digital kita, karena bahkan dalam mengkonsumsi bajakan kita lebih cenderung mengkonsumsi konten streaming. Kita terbiasa dengan streaming video di youtube atau situs-situs rusia yang menyajikan serial terbaru keluaran Starz (pokoknya full frontal nudity), dan alasannya bukan karena idealisme atau apa, alasannya sayang memori hard disk atau memang lebih praktis saja.

Bencana banjir di Thailand tahun 2011 tentu tidak membantu budaya berbagi ini, tahun 2010 — pada saat 320 GB masih normal — kita membayangkan HDD 1 Tera akan menjadi standar di laptop mid-level masa kini, tapi karena krisis hard disk kita masih terjebak dengan 500GB untuk laptop mid-level. Lemah!

Namun dengan munculnya broadband (untungnya) di kota-kota besar, streaming menjadi semakin dapat diakses, terutama banyak website yang menyediakan fasilitas streaming tersebut secara gratis. Dari kubu legal pun — seperti netflix dan apple music — streaming sudah mulai menjadi kebiasaan konsumsi hiburan digital yang diterima masyarakat.

Tapi ini berarti kita tidak lagi bertukar flashdisk atau CD atau floppy 3.5, belakangan ini kitapun tidak bertukar tautan situs streaming — misalnya, kita akan membahas sebuah serial atau film, atau album — tetapi cara kita memperolehnya atau mengkonsumsinya, ya, di situs streaming favorit kita yang mungkin akan berbeda-beda.

Streaming dan Hilangnya Kepemilikan

Ok, mungkin kepemilikan adalah kata yang agak aneh, secara hukum internasional kita hanya memiliki lisensi untuk mengkonsumsi, tetapi bukan kepemilikan terhadap konten tersebut. Namun, terlepas dari itu kita sudah beranjak dari berbagi dalam konteks wadah (fisik, digital, hingga teks) menjadi berbagi konsep. Budaya berbagi itu sendiri tidak hilang karena, kita tetap berbagi pengetahuan mengenai musisi atau lagu atau album atau film atau serial yang kita konsumsi.

Hal ini semakin didukung dengan masuknya penyedia jasa streaming populer yang menyediakan konten berlisensi seperti Netflix, Apple Music, Spotify, Joox, iMusik Indosat, Langit Musik, dan deezer, misalnya. Akses dan pilihan menjadi begitu luas — selama masih terkoneksi 3G dan broadband, itupun kalau provider berbaik hati dan tidak memblokir konten dengan berbagai macam alasan dan membukanya kembali hanya agar pengguna dapat menghentikan langganan.

Ilusi Pilihan dan Distribusi Konsumsi

Ok, mungkin pada mampu beli hard disk SSD 2TB, fine, tapi dengan meningkatnya angka kematian toko CD maka ada kesulitan memperoleh musik tanpa harus membajak. Eh, tapi kalau mampu membeli SSD 2TB mungkin mampu beli versi original distribusi digital! Lagipula siapa yang mau mendengarkan kualitas sampah yang ditawarkan oleh pembajak, waktu itu pernah mendownload Ben Folds – Songs for Silverman tulisannya 320Kbps HQ mp3 tapi SETIAP BUNYI “S” DAN “P” MENDESIS DAN TERDISTORSI! APA-APAAN INI?! DASAR TUKANG BAJAK GATAU KUALITAS!

Jangan sedih, kemunculan Google Play Film atau Itunes Store bisa mengisi kekosongan storage space kalian. Bagi pecinta buku — lupakan kindle, belum ada support untuk Indonesia — kabar gembira, Kobo dan Google Books dapat dibeli menggunakan kartu kredit dan alamat lokal. Hanya saja, pembelian melalui distributor digital seperti ini membuat konten terkunci dalam device.

Hal ini memaksa tiap orang untuk membeli konten untuk tiap device, kita kehilangan kebiasaan saling meminjam/berbagi konten karena konten tanpa wadah (file mentahan, buku, DVD) adalah konten murni yang kemungkinan besar bukan milik kita. Bahkan konten yang kita ciptakan sendiri belum tentu milik kita. Mungkin satu hari kita akan kehilangan konsep meminjam untuk membuat duplikat, mungkin kelompok bertukar buku perlahan mati di tahun 2050.

…dari konsep berbagi menjadi berbagi konsep.

One Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *