Jangan Ada Privasi di Antara Kita

Bagian 1 dari seri “Basa-Basi tentang Privasi”

Berapa banyak dari kita yang bersyukur dengan keberadaan Internet? Mungkin sebagian besar dari pembaca tulisan ini setidaknya pernah mengucap syukur atas kehadiran Internet yang pada satu titik memberikan berbagai kemudahan dalam hidup. Tanpa bermaksud menyamaratakan, memang tidak ada salahnya berterima kasih pada Internet. Namun ketika berbicara tentang kemudahan, terutama dalam mengakses informasi, kenyataannya tidak “semudah” itu. Seperti ungkapan “tidak ada makan malam gratis”, selalu ada nilai tukar untuk mendapatkan kemudahan yang disajikan di Internet. Ketika kita berpikir bahwa kehidupan kita bergantung pada Internet, faktanya, bukan pada Internet kita bersandar, melainkan pada korporasi-korporasi besar yang mendominasi layanan Internet dan seluruh infrastruktur pendukungnya. Sehingga kemudahan begitu mustahil untuk diberikan secara cuma-cuma.

Dengan sukarela kita memberikan informasi pribadi untuk membuat akun dan mengakses layanan yang diberikan, mulai dari Google, Facebook, Twitter, Spotify, hingga Lazada. Berbekal informasi pribadi dan aktivitas kita di Internet, mereka bertindak selayaknya teman curhat. Mereka menampung dan merekam seluruh jejak kita dan dengan menggunakan Algoritma, mereka menjadi teman yang sangat memahami diri kita. Membaca pola dan memetakan siapa diri kita, apa yang sedang kita inginkan, siapa saja yang kita cintai, apa yang kita mimpikan, dan seterusnya. JIka ada pihak yang paling memahami diri kita lebih dari siapapun, mungkin saat ini jawabannya adalah mereka. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah itu sesuatu yang salah?

Ketika kita memutuskan untuk memberikan informasi pribadi untuk mengakses semua kemudahan yang ditawarkan di Internet, pertanyaan tersebut menjadi kurang tepat. Kalau mereka dituduh bersalah, dengan mudahnya mereka bisa menyerang balik dengan “siapa yang memberikan informasi?”. Seolah tidak ada pilihan untuk menikmati kemudahan yang tersedia di Internet. Pada akhirnya, dengan semua pernyataan tersebut, persoalan tentang privasi dibuat menjadi tidak relevan. Seorang teman pernah membuat pertanyaan (sekaligus pernyataan): “Kalau mau ada privasi untuk apa menggunkan Internet? Untuk menggunakan layanan Google dan semacamnya kan memang mengharuskan kita memberikan informasi pribadi.”

Mungkin banyak yang berpikir bahwa tidak ada salahnya memberikan informasi pribadi kita dan pelacakan terhadap aktivitas daring. Sebab memang ada “hikmahnya” mereka melakukan hal tersebut, seperti seorang teman baik, mereka pasti membantu kita untuk lebih memudahkan navigasi dan kegiatan daring. Alangkah nyamannya jika tidak perlu mengetik panjang untuk pencarian karena “teman baik” sudah bisa mengira-ngira apa yang kita mau. Untuk apa susah-susah menyusun daftar (playlist) lagu-lagu favorit kita, jika “teman baik” bisa memberikan rekomendasi yang pasti kita suka? Bingung mau pakai apa di kencan pertama? “Teman baik” akan membantu memberikan referensi pakaian yang sesuai.

Di sisi lain kita juga merasa apalah arti dari informasi pribadi kita karena kita bukan siapa-siapa. Tidak ada yang penting dan berbahaya dari informasi diri kita jadi tidak ada salahnya mereka punya seluruh data mengenai diri dan aktivitas kita. Seorang “teman baik” tentu tidak akan menyakiti karena ia juga membutuhkan diri kita. Jadi, impas, tidak ada yang dirugikan dari pertukaran tersebut. Toh, memang tidak perlu ada rahasia dan dusta antara kita dan “teman baik” karena pada akhirnya mereka memang harus memahami kita lebih dari siapapun. Kita pun akan selalu membutuhkannya, terutama di saat sulit. Ketika kita sedih, ia bisa menyemangati kita dengan konten yang menghibur. Jika ditinggal pacar, ia bisa membantu kita mendapatkan pacar baru, menjodohkan dengan orang yang sekiranya cocok dengan kita. Sungguh seorang “teman baik” yang bisa diandalkan.

Namun apa yang terjadi jika kita memberikan kepercayaan sepenuhnya pada para “teman baik” kita? Apa yang akan mereka lakukan setelah mereka mengetahui seluruh rahasia hidup kita? Apa yang bisa mereka wujudkan ketika mereka tahu apa yang kita suka dan apa yang tidak kita suka? Mungkinkah mereka menyakiti kita?

Menurut diagram ini, ‘internet’ dan ‘privasi’ merupakan dua hal yang tak bisa disatukan. Setuju kah?

 

Sumber foto:
whitmanpioneer.com
psfk.com

2 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *