iOS vs Android: Polemik Yang Perlu Mati

Jadi, kamu milih yang mana? Android atau iOS?

Pertama-tama mari kita perjelas, ini bukan Apple vs Android karena kita akan tumpang tindih antara hardware dan software.Secara pribadi saya mengagungkan konsistensi antara hardware dan software Apple Inc. Bahkan Linus Torvalds, inisiator kernel Linux, mengakui bahwa sebagai hardware Apple unggul — ia pernah menggunakan Macbook Air, dengan OS berbasis Linux tentunya.

Artikel ini terbesit karena munculnya iPhone 6 dan Apple Watch masing-masing dibanding-bandingkan dengan Galaxy Note Edge dan Moto 360. Edge jadi perbandingan karena concept phone awal menyajikan layar di seluruh pinggiran telepon. Perdebatan sengit tidak terhindarkan dalam sebuah grup whatsapp sampai seorang teman pernah mengatakan “I love how iPhone combines design with technology” jawaban saya? “What technology?  I wouldn’t call sesuatu yang gabisa Bluetooth  foto antar device technology” lalu kembali kita ke dalam polemik iOS vs Android.

Seakan-akan kita perlu memilih. Dengan integritas hardware – software iPhone — dengan compatibility dengan iRig misalnya — menjadi malaikat bagi pekerja audio untuk analisis tanpa perlu membeli alat khusus lagi. Crash / Force Close tidak menjadi issue besar karena developer tidak pusing harus memikirkan compatibility antara berbagai jenis hardware layaknya pilihan device android yang begitu terfragmentasi. Android dengan open source *untuk sekarang*nya memberikan developer keleluasaan untuk eksperimentasi dengan potensi penuh perangkat seperti yang dilakukan samsung dengan air dan motion gesture atau cyanogenmod dengan berbagai macam fitur.

Namun terkadang kecelakaan terjadi; sepertinya Tim Cook CS baru saja membunuh argumen pengakomodasian developer itu di iOS 8 compatibility  terhadap banyak apps dirusak menurut seorang developer portal berita. Tapi tak apa, dengan market share yang begitu besar — turun 6,9 persen dari kwartal pertama 2014 — para developer harus dengan cekatan mengikuti dikte OS tersebut.

Di sisi lain, saya baru saja menghidupkan kembali Galaxy S3 mini saya yang sudah usang dengan memasang Android Kitkat 4.4.4 custom rom cyanogenmod oleh Novafusion, apa yang terjadi? Driver untuk motion gesture hilang, tidak lagi bisa mengunlock dengan gaya pecutan. ctar! Pada dasarnya developer Android pun kampret, bagaimana bisa Apple Inc. yang sangat closed model — seperti kebijakannya mengimplementasikan AirDrop padahal sudah ada WiFi-Direct sehingga pelanggan harus membeli  produk Apple untuk dapat merasakan interkoneksi yang seamless sebagaimana dinikmati pengguna OS lain (ya, bahkan Windows Phone dan Blackberry menggunakan WiFi-Direct) — dapat menyediakan iOS8 untuk sebuah perangkat 3 tahun lalu (iPhone 4s) sedangkan Galaxy S3 Mini stuck di JellyBean, 4.1.2 pula! WTF Samsung!?

Pada akhirnya kita secara natural apologetis terhadap perangkat dan OS yang kita sudah terbiasa, iOS mungkin tidak memiliki fungsi dasar yang membuat sebuah smartphone….. smart, seperti kemampuan dasar untuk search in page di browser safarinya — jujur saya hampir membanting telepon teman saya perihal itu. Pemakai Android, terutama power user, akan mengunggulkan keterdepanan teknologi, sedangkan Apple fanbois dan fangrrls akan mengunggulkan kemampuan mereka untuk membeli barang elektronik yang overpriced dan overhyped… eh maksudnya integritas antara software dan hardware.

Oh dan bahwa device lama mereka bisa di upgrade ke iOS 8.

Damn you Samsung!

One Comment

  1. 2015-05-26

    saya baru tau kalo iphone gabisa transfer data via bluetooth. mendingan android dong kalo gitu

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *