Grindr: Lebih dari Sekadar “Klik-Ketemuan-Crot”

Membaca Platform Kencan: Jomblo No More atau PHP Everlasting membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Saat setahunan belakangan para jomblo ibukota heboh dengan aplikasi kencan online berdasarkan lokasi, kami—para gay ceria dengan ponsel cerdas—sudah lebih dulu diam-diam heboh dengan teknologi ini sejak tahun…2009–bahkan mungkin lebih!

Adalah Grindr yang menjadi salah satu pelopor aplikasi kencan online berdasarkan lokasi untuk kaum gay. Cukup install aplikasinya dan kemudian akan tampak deretan foto-foto berbagai rupa. Simpelnya: kita jadi tahu siapa saja gay yang online di sekitar kita.

Online Dating sebagai Ruang Aman bagi Gay

Kenapa para gay butuh aplikasi sejenis Grindr? Grindr memudahkan kami untuk meniduri mengenal satu sama lain. Tidak seperti heteroseksual yang dengan mudahnya mengajak kenalan lawan jenis (yang bertemu di kafe, misalnya), gay tidak bisa seterbuka itu—di Indonesia yang masih ada FPI ini. Heteroseksisme yang bertebaran di mana-mana membuat gay tidak semudah itu menebar jaring. Inilah salah satu nilai yang membedakan aplikasi kencan umum dan aplikasi kencan khusus gay. Ada sedikit kesan “underground” dan rasa aman untuk lebih memunculkan diri dibandingkan aplikasi kencan yang tidak dikhususkan bagi gay.

131205161407-grindr-jackd-620xa1  tumblr_n7padyCnXT1qcot45o1_1280

Sebelum era Grindr yang berbasis mobile, terdapat Manjam—semacam Facebook khusus gay. Di era sebelumnya lagi, kami punya berbagai mailing list dan grup MIRC khusus gay. Mundur lagi ke belakang, saat internet belum ada, kami sudah mahfum dengan kode anting di kanan atau sapu tangan di saku belakang yang dikeluarkan sebagian. Semua sebenarnya berfungsi sama dengan Grindr: sebagai penanda. Tanda kalau saya gay dan kamu juga gay. Dari zaman ke zaman, teknologi ke teknologi, intinya yang kita mau tahu hanya satu, kalau kita sama.

Perbedaan Penggunaan

Ternyata ada sedikit perbedaan penggunaan aplikasi ini di sini dan di negara asalnya, Amerika Serikat. Pernah suatu hari saya mengobrol dengan seorang teman dari Amerika yang jadi ekspat di sini. “Di negara gue, Grindr itu aplikasi untuk hook up, nggak lebih. Kalau di sini, ada yang cuma pengen chat lah, ada yang cari teman lah, ada yang cari pasangan sejati lah.” Di AS, Grindr merupakan aplikasi bagi para gay pencari one night stand.

Mungkin sebagian besar dari kami para gay tidak sadar, tapi Grindr dan aplikasi kencan sejenis sudah membawa perubahan besar pada pergerakan gay di Indonesia. Aplikasi dengan deskripsi target “Gay, bi & curious guy” ini membuat kami tidak lagi merasa berbeda sendiri, menghubungkan satu sama lain, hingga memberi ruang lebih untuk berekspresi. Meskipun ironisnya, di beberapa negara lain Grindr dan aplikasi sejenis justru menjadi bumerang. Seperti di Mesir, di mana para polisi menggunakan Grindr untuk menangkap para gay.

Walau hadir pertama kali di dunia, hegemoni Grindr tidaklah sebesar itu di Indonesia. Pesaing terbesar datang dari Jack’d, aplikasi yang serupa tapi tak sama. Yang membedakan Jack’D dan Grindr adalah Jack’d punya fasilitas “Who’s viewed me” yang bisa bikin geer kalau profil kita di-visit cowok-cowok lucu. Jack’D juga menyediakan ruang lebih untuk menjabarkan diri kita, ala-ala buku harian zaman SD, seperti musik favorit, film kesukaan, hobi pekerjaan, kegiatan hari-hari, dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan juga fitur notifikasi jika ada gay yang membalas pesan yang kita kirimkan (di Grindr kita harus update ke premium terlebih dahulu untuk fitur ini).

tumblr_mtqzwkJb7b1qb1yryo1_500 tumblr_mx7efazWrm1qc7d6no1_500

Tidak hanya Jack’D, ada juga GROWLr khusus untuk mereka yang suka cowok-cowok bertubuh gemuk. Ada SCURFF untuk yang suka dengan jambang-jambang. Ada Badoo untuk yang suka dengan mas-mas. Sementara Hornett punya fitur yang nyaris sama seperti Grindr. Oh ya, tidak lupa juga aplikasi kencan yang tidak dikhususkan untuk gay juga bisa digunakan oleh para gay, seperti OkCupid dan Tinder.

Jika saya dipaksa untuk mencari benang merah dari semua aplikasi, mau tak mau saya harus bilang bahwa, “We do judge a book by its cover!”. Jadi, apa pun aplikasinya, pastikan foto profilnya menarik—sifat dan karakter bisa diatur lah! :p Pertanyaan terbesarnya: dengan beragam aplikasi kencan online, apakah para gay lebih mudah menemukan cinta?

Tidak juga.

Dulu saya pikir juga begitu tapi toh sampai sekarang saya masih tetap jomblo dan yang saya dapat dari aplikasi-aplikasi ini hanya sebatas satu-dua malam. Pertanyaan lanjutannya, berarti benar di kalangan gay cuma buat senang-senang (baca: sex) saja ya? Tidak juga.  Ada banyak sekali teman saya yang bertemu di dunia online dan sampai sekarang masih jadian, bahkan ada yang sudah menikah.

Apa pun orientasinya, cinta itu tetap datang dari hati, yah… salah satu pintunya bisa dari layar hape.

10 Comments

  1. aref
    2015-07-19

    10

    Reply
  2. MAN
    2015-08-14

    hahahaha sampai rasanya saya lelah pakai applikasi ini karena gapernah ada yang jadi..
    selalu ajah setelah ‘making-out sessions’ doi ngomong jangan baper yah.. gimana ga langsung sedih 🙁
    hikmah yang bisa diambil adalah never involved sex on your first date, tapi yah susah juga karena kalau udah ketemuan pasti terulang lagi hal diatas
    dan maaf jadi curcol

    Reply
    • M
      2016-04-18

      Sumpah deh bagus kata katanya

      Reply
      • syaminonesia
        2016-11-29

        jika kamu mo pijit pegal2 cape2 sms aja ke 081*******35 manly murah kalem baik2

        Reply
  3. Kadri
    2016-01-31

    Bisa di download lewat labtob ngak aplikasinya?

    Reply
  4. roy
    2016-02-17

    Haha jaman mirc dan jaman sapu tangan dan anting kanan…trs apalagi ya mungkin bungkus rokok di miringin nunjuk orang juga gak ya hahaha flash back

    Reply
  5. Aryo
    2016-03-20

    Chat,ketemuan,fuck me,oh yeah..Crooooot
    Begitu lah tujuan utama…
    But saya mau kenalan.jalani pdkt dulu klo cocok jadian.trus terserah slnjut nya.apakah berlanjut diranjang atau gmn nya

    Reply
  6. Andreas
    2016-04-20

    Cerita tentang dulu, gue jadi teringat tentang pke cincin di jari telunjuk sebagai identitas juga….

    Oh iya pakai anting harus yg tindik, bukan magnet hahahha
    Itu masih gue rasain

    Reply
  7. 2016-11-29

    Kenapa sya gak bisa lihat ya orng2 d sekitar cuma tampak kayak film klise..
    Terima kasih

    Reply
  8. Poppo
    2016-12-04

    Udah pernah jadian, udah nyaman banget, eh mesti pisah karena aku kuliah di jakarta. Nyampe sini, mau cari yg baru, dapetnya 3:
    1. One night stand
    2. Nawarin pijet
    3. Nawarin bisnis (yg ini ngaco. Wkwk)

    Reply

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *