Genderuwo, Jenglot, Lamia, GoJek, dan Makhluk Mitologis Lainnya

Jadi…. go-jek telah menjadi unicorn…. (menurut cbinsights.com)

gojek_unicorn

mengheningkan cipta… mulai….

deeeee ngaaaaar seluuuuuu ruh angkasa raya memuuuji …

Terajar Pada Kuda Mistis Pincang

Ngga kok, kita tidak punya dendam apapun terhadap gojek, beneran deh, meski didera double order, saldo gopay hilang, hingga masalah keamanan data

gojek_komlpain
aneka ria riuh keluhan pengguna

Kegusaran ini sebenarnya lebih karena bagaimana sebuah aplikasi dengan kematangan yang rendah dapat mencapai taraf unicorn, apalagi, yang pertama di Indonesia. Apa jadinya bila app dari Indonesia yang “siap mendunia” tidak bisa bersaing dengan aplikasi lainnya?

Pertama mendunia? Hm, ga juga. Kalau pembahasannya mendunia mungkin kandidat yang lebih baik adalah Traveloka,

Traveloka Contact
Traveloka melayani 6 negara

Saat ini Traveloka sudah memiliki call centre di 6 negara (Singapur, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina) dengan dengan nilai booking fee sekitar 10.5 Miliar USD pada tahun 2013. Mereka bahkan sudah beriklan di TV lokal Thailand.

Bukan iklan paling keren, tapi ya… Iklan

Memang traveloka tidak sempurna juga sebagai aplikasi, masih ada masalah double payment (yang biasanya berakhir dengan refund), atau eror API maskapai dan metode pembayaran, bahkan eror server. Tapi yang sangat mengesankan — pendapat pribadi dan beberapa orang — adalah tampilan (UI) dan kemudahan penggunaan aplikasi (UX) yang terus dikembangkan.

Kita bahas apa tadi? oyah, Gojek berstatus kriptid. Apabila kita bandingkan dengan perusahaan-berbasis-aplikasi-dengan-status-unicorn asia lainnya seperti Zomato (India), GrabTaxi (Malaysia/Singapur), Lazada (Singapur), Garena (lebih dikenal di Indonesia dengan produk BeeTalk, Singapur) yang, yah, coba sendiri dan bandingkan kematangan aplikasinya dengan gojek.

Mempertanyakan Unicorn

Jadi, pertanyaan utamanya, apakah itu unicorn dan apa otoritas yang menentukan sebuah unicorn? Karena menurut techchrunch go-jek belum masuk radar unicornnya;sama halnya dengan Fortune maupun Wall Street Journal. Awal tahun ini techcrunch menspekulasi Traveloka dan Tokopedia untuk masuk ke dalam jajaran makhluk mitologis sayangnya — sementara ini — kita tidak dikarunai harapan itu.

Unicorn sendiri dinamakan seperti itu karena begitu jarang perusahaan mencapai valuasi USD 1 M, Aileen Lee (yang pertama mempopulerkan terminologi ini pada tahun 2013) mengatakan hanya .07% startup perangkat lunak mencapai valuasi itu. Pada tahun 2015 ia melihat kembali pasar tersebut dan mengatakan bahwa bagi beberapa orang merasa kalau pengejaran status unicorn ini annoying. Dari artikelnya ia mengatakan bahwa banyak sekali peningkatan unicorn pada tahun itu (115% peningkatan) yang disebabkan oleh apa yang disebutnya sebagai “unicorn kertas”; perusahaan yang nilai sahamnya belum pernah diuji ke publik.

Di sisi lain, Bill Gurley dalam konferensi teknologi Goldman Sachs tahun 2015 mengatakan bahwa investor beresiko menjejalkan terlalu banyak uang ke startup. Ia juga melihat bahwa investor memperlakukan perusahaan-perusahaan ini seakan-akan mereka perusahaan terbuka.

Yang membuat hal ini berbahaya menurutnya adalah bagaimana institusi seperti bank, pengelola investasi global, dan reksadana tidak memahami kondisi modal ventura untuk mempertimbangkan resiko dan menyadari bahwa perusahaan-perusahaan milyaran dolar ini bukan jaminan keberhasilan.

Artinya milyaran dolar uang bank dan investasi yang dipercayakan dari publik dipertaruhkan pada suatu yang rancu.

Gajah di Pelupuk Mata

Tapi yang paling menarik adalah bagaimana reaksi sebuah artikel terhadap fenomena ini. yang paling menarik adalah bagaimana artikel tersebut dapat membandingkan valuasi perusahaan dengan model pendanaan VC dengan perusahaan mapan.

“Gila! Inilah hebatnya teknologi. Bayangkan saja, Gojek yang bahkan tak memiliki armada ojek sendiri kini bernilai lebih mahal ketimbang Garuda yang memiliki aset Rp 48 triliun dan penjualan Rp 23 triliun (semester pertama 2016). Di luar itu, ada ratusan perusahaan lain di BEI yang nilainya lebih murah dari Gojek. Sebut saja Permata Bank, Ace Hardware, Krakatau Steel, Siloam International, Bank Sinarmas, Astra Otoparts, Holcim, Alam Sutera, dan masih banyak lagi.”
Cipta Wahyana
Strategic Management GM & Senior Editor at KONTAN (PT Grahanusa Mediatama)

Semoga ini sarkas, karena kalau tidak ini agak membodohi pembacanya. Pada dasarnya metode valuasi startup cukup unik, secara garis besar perusahaan mapan divaluasi berdasarkan laba, sedangkan perusahaan “start-up” berdasarkan omzet. Tapi ini sarkas kan ya?

Mungkin ini manusiawi saja, tetapi ada kebiasaan massa untuk mengagung-agungkan sebuah produk berdasarkan media mention dan bukan dari kualitas produk itu sendiri. Sementara kita memiliki perusahaan-perusahaan yang dapat dikatakan membawa —  kalau tidak berlebihan — perubahan sosial dan ekonomi tanpa ada buzzer yang berkicau, kita masih saja girang pada angka.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *