Digital Detox: Romantisme Analog dan Enlightenment Semu

“Generasi 90an, generasi di mana imajinasi lebih mendominasi daripada teknologi.”
“I’m so thankful I had a childhood before technology took over.”

Saya anak kecil yang sempat melewati era 90an. Sempat merasakan diam-diam membawa tamagotchi ke sekolah. Dimarahi orangtua karena terlalu lama bermain Nintendo, menonton Keluarga Cemara di televisi, dan sebut saja puluhan romantisme 90an lainnya yang menyebar di social media. Namun, saya sendiri mulai muak dengan pesan-pesan yang menyebar lewat meme yang saya kutip di awal tulisan ini. Cukup sudah kebanggaan semu akan era masa kecil dan romantisme analog yang tak lebih dari nostalgia semata. Pesan-pesan yang menyatakan bahwa apa pun sebelum digital itu lebih baik ini ironisnya disebarkan lewat apa yang disebut dengan “teknologi”.

Hal ini mengingatkan saya akan semacam gerakan/kegiatan yang mulai populer di Barat, Digital Detox dan #unplugging. Pertama kali melihat kampanye Digital Detox di Adbusters.org, kampanye ini berangkat dari premis bahwa teknologi digital kini begitu adiktif. Kampanye pun disusun dalam bentuk ajakan untuk mengikuti Digital Detox Week; salah satunya adalah ajakan ketika bangun tidur untuk tidak langsung membuka smartphone atau menyalakan komputer. Sementara #unplugging di Amerika Serikat punya National Day of Unplugging yang sudah berjalan selama lima tahun. Bentuk lebih jauhnya lagi adalah digital detox camp. Salah satunya Camp Grounded yang terletak di bagian utara California, AS. Di summer camp bagi orang dewasa ini segala jenis perangat digital tak diperbolehkan masuk. Sebelum memasuki area berkemah, ponsel, laptop, dan tablet ditinggalkan di “Robot Decontamination Area”. Untuk mengikuti camp ini, para peserta yang rata-rata terkoneksi 24 jam ini diharuskan membayar $570 (atau dalam kurs rupiah hari ini Rp6.840.000,00 untuk empat hari). Kita membayar untuk melepaskan diri dari barang yang kita bayar. Konon sebegitu adiktifnya teknologi sampai-sampai camp semacam ini menjadi ashram bagi para pengguna internet.

Jpeg1 jpeg2

Di Indonesia, digital detox memang tak sepopuler itu karena tanpa perlu unplugging, koneksi listrik maupun internet kita masih matinyala. Negara kita justru masih di tahap memeratakan plugging sehingga istilah unplugging akan terdengar kurang relevan. Namun, rupanya spirit digital detox tetap menyebar di kalangan pengguna internet Indonesia dalam bentuk pesan dan kemasan yang berbeda. Seperti kutipan-kutipan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Ada semacam pandangan bahwa teknologi digital membawa kerusakan pada peradaban dan para penggunanya adalah generasi menunduk yang cuma bisa #selfie. Pandangan ini tentu sah-sah saja dan ada faktanya, tapi menurut saya, tak bisa disebut sebagai masalah yang signifikan dari teknologi.

Masalah-masalah teknologi yang ingin diatasi oleh semangat digital detox adalah masalah personal, pilihan, dan etika para pengguna teknologi. Seperti jangan main-main smartphone jika sedang meeting atau mengobrol dengan kawan, jangan chatting waktu lagi makan bareng keluarga, jangan keseringan buka Path, jangan keseringan post foto #selfie kasihan kawan-kawan yang lihat, dan lain sebagainya. Tapi lagi-lagi semua itu hanya etika yang bisa dimentahkan oleh, “memang lo yang bayarin paket data internet gue?”, “unfollow aja Instagram gua kalo nggak suka lihat foto #selfie”, atau “memang kalau keseringan buka Path, tingkat kemiskinan akan berkali-kali lipat?”. Seperti mengatur bagaimana cara orang menikmati bintang di langit, pointless. Kalau anda pilih makan lauk organik, bagus, tapi jangan menganggap rendah dan marah-marah sama orang yang mengunyah ayam KFC. Kalau anda pilih buka buku di bus ya bagus, tapi tak perlu merasa “lebih tinggi” dari orang yang terus menatapi iPhone-nya (barangkali ia pun sedang membaca buku yang lebih bagus dari buku anda dalam bentuk PDF atau epub di situ). Obrolan via WhatsApp atau Skype tak kurang nyata dari obrolan tatap muka atau via telepon.

Pandangan yang perlu dibenahi adalah bahwa online dan offline merupakan dua dunia yang berbeda, bahwa apa pun yang digital pastilah dangkal. Ketika sebenarnya online hanyalah salah satu cara untuk menyelami dunia yang sama saja. Mau menyelam di tempat dangkal atau dalam, bebas-bebas saja.

 

 

Sumber foto:
tirl.org
Instagram Generasi 90an

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *