Demo Taksi Jakarta dan Gerakan Luddites

Hari ini sejumlah jalanan Jakarta kaos oleh aksi protes. Kali ini supir taksi yang beraksi, memarkir taksi-taksinya di jalan raya, menghadang taksi-taksi lain yang masih beroperasi, juga ojek-ojek berbasis aplikasi mobile. Bukan kejadian baru di dunia transportasi berbasis internet. Jauh sebelumnya, kota-kota besar lainnya sudah mengalami hal serupa, tentu dengan varian-varian tuntutan dan tingkat kerusuhan yang beraneka ragam.

Sekilas Kisah Perjuangan Luddites

Ini mengingatkan saya akan Luddite. Istilah ‘luddite’–terutama dalam bahasa dan budaya Barat—digunakan sebagai kata ganti yang tidak menyukai teknologi, atau setidaknya gagap teknologi alias gaptek. “I’m sort of a luddite on this social media thingies”, “Why don’t you use smartphone? Are you a luddite?”. Kira-kira begitulah istilah yang punya akar sejarah panjang ini berbelok makna semacam istilah ‘anarki’ yang dikacaukan semudah itu menjadi kata ganti ‘rusuh’ atau ‘vandal’. Bukti betapa ruang bahasa kita dipenuhi oleh kesalahpahaman.

Telusur punya telusur, arti ‘luddite’ yang sebelok ini berasal dari kejadian pada abad ke-19. Di era Revolusi Industri tersebut sejumlah pekerja artisan menghancurkan mesin-mesin sebagai bentuk protes mereka terhadap dampak-dampak buruk Revolusi Industri. Meski sejumlah pihak mengartikannya sebagai bentuk ketakutan suatu kelompok atas perubahan (kemajuan teknologi), sebetulnya, tuntutan Luddites tak sedangkal yang dipercaya kebanyakan orang. Luddites yang menamai kelompok mereka dari nama seorang tokoh dari legenda urban, Ned Ludd. Alkisah, Ned Ludd diam-diam menyabotase alat-alat pabrik di malam hari, dimulai dari Nottingham, lalu ke Yorkshire dan seluruh daratan Inggris.

Menurut sosiolog Donald MacKenzie, Luddisme sama sekali bukan sekelompok orang yang tanpa otak, irasional, dan payah. Bukan sekadar sekumpulan pekerja yang marah tanpa dasar hanya karena kalah saing strategi mencari uang, hanya karena takut perubahan. Luddites adalah sekumpulan orang yang sebagian besar adalah pengrajin tekstil yang melihat digunakannya mesin tenun otomatis yang menghemat biaya produksi sebagai ancaman. Meskipun begitu, tak seperti pandangan yang sudah kelewat menyebar diadopsi dan direproduksi oleh budaya populer, Luddites bukanlah orang yang takut terhadap teknologi. Mereka jelas tahu bahwa pekerjaan yang begitu telaten dilakukan dengan tangan serta kerajinan yang dikerjakan begitu halus dan teliti sehingga menghasilkan produk yang berkualitas, kini harus digantikan prosesnya oleh kerja mesin. Mesin-mesin yang melakukan pekerjaan dengan lebih buruk, namun dengan harga yang lebih murah.

Sosiolog dari Paris-Sorbonne University, Raymond Boudon, juga menambahkan bahwa sekelompok orang ini mengerti keuntungan dari adanya mekanisasi. Aksi penghancuran mesin yang mereka lakukan sesungguhnya adalah untuk menunjukkan pada bos-bos tekstil bahwa sebagai artisan, mereka patut diperhitungkan, bahwa mereka punya “efek ganggu”. Karena mungkin hanya dengan cara tersebut, pada akhirnya mereka dapat dianggap (juga didengar) oleh bos-bos mereka. Jadi, tuduhan bahwa Luddites benci dan takut teknologi adalah salah. Karena mereka bukan teknofobia, melainkan pekerja yang sedang berstrategi. Usaha mereka tidak sia-sia, mereka sukses besar, permintaan mereka soal gaji yang layak dan sejumlah tuntutan berbasis hak pekerja lainnya pun didengar. Tak hanya itu, mereka pun mendapatkan dukungan dari masyarakat luas.

Kembali ke Jakarta hari ini

Melihat wacana dan pandangan terkait kejadian hari ini begitu seru sekaligus membuat jemu. Seru karena oh seperti biasa orang Jakarta begitu suka berasumsi tanpa pikir sedikit panjang. Ini mengacu pada para pembela perusahaan online yang kasih solusi untuk uninstall apps saja kalau tidak suka dan sejenisnya. Jemu karena, lagi-lagi, akar masalahnya tidak baru. Bukan soal teknologinya, tapi soal kelakuan klise para pemilik modal. Teknologi dalam kasus ini tak lebih dari sekadar amplifier dan atau modifier bagian buruk yang dibawa oleh, hmmm, kapitalisme. Menurut Avi Asher-Schapiro dalam tulisannya di Jacobin Magazine, konsep “sharing economy” (yang begitu dielu-elukan) yang dilakukan oleh Uber, Grab, Gojek, sesungguhnya berisiko bagi hak-hak pekerja, melemahkan dari segi perlindungan pekerja (asuransi? bye!), menurunkan upah (menaikkan keuntungan para pemilik modal).

Meski demonstrasi hari ini tak persis sama dengan gerakan Luddites, namun ada satu kesamaan asumsi terhadap mereka, “ketakutan terhadap teknologi”. Yang lama adalah ketakutan terhadap teknologi yang menggantikan kerja mereka, yang kedua ketakutan terhadap teknologi yang mengancam sumber pencaharian mereka. Keduanya sama-sama merupakan ekor dari kebaruan yang tak terhindarkan, namun perlu ditanggapi matang-matang. Lepas dari kemungkinan-kemungkinan politis, drama ekonomi, dan provokasi dari sejumlah pihak yang bisa jadi punya agenda sendiri, tapi sebentar saja mundur dan melihat tak hanya dari sisi pengguna yang cuma mau bayar lima belas ribu rupiah, rasanya dibutuhkan. Ketika harga ojek dan taksi yang bikin nyaman di kantong kita bisa jadi sebab dua orang gontok-gontokan, tentu saja ada yang salah dalam sistem tersebut. Memanfaatkan teknologi dan berinovasi tentu perlu, namun solusi seputar masalah-masalah ini tak seenteng pilih tombol “uninstall”. 

 

Referensi:
motherboard.vice.com/read/luddites-definition-wrong-labor-technophobe
jacobinmag.com/2014/09/against-sharing

Sumber foto:
okezone.com
vice.com
janeausten.co.uk

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *