Big Data: Buzzword Dekade Ini

data
Nomina (n)

1 keterangan yang benar dan nyata: pengumpulan — untuk memperoleh keterangan tentang kehidupan petani
2 keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan)

Jadi apa itu Big Data? Data yang besar? Seberapa besar? Apa tolok ukurnya?

Sulit dijawab, tapi mulai banyak klaim bahwa perusahaan atau entitas lainnya ahli dalam bidang ini (search “big data Indonesia). Kadang analytics biasa saja — data kelurahan misalnya — dikategorikan big data. Akhirnya kata ini menjadi buzzword belaka, diperbincangkan tapi tidak dipahami konsepnya. Bahkan penulis teknologi New York Times menyerah dengan mengatakan bahwa terminologi big data terlalu umum untuk dicari asal usulnya.

Ya, memang bahkan konsepnya sendiri masih sangat rancu, ada sebuah konsep yang mengatakan big data adalah data yang tidak di desain untuk dikumpulkan, ada pula yang mengatakan bahwa ketiadaan strukurlah yang mengindikasi big data. Skalabilitas dari data membuat terminologi ini mungkin akan hilang dalam satu dekade ke depan dengan adanya kemampuan penyimpanan data yang semakin besar. Atau tidak. Skalabilitas ini juga berarti orang yang memiliki data besar kini — berpeta-peta data — mungkin akan memiliki 100× data di dekade ke depan berbanding lurus dengan syarat minimum big data di masa depan. Siapa yang tahu?

Salah satu pelaku big data di Indonesia adalah, tentu saja, negara. Pusdalisbang Jawa Barat berhasil mengintegrasikan seluruh data kependudukan Jawa Barat dalam satu kanal, dan merupakan implementasi yang sangat baik karena dalam semangat big data, tidak penting untuk apa data itu tapi penting untuk menangkap data memikir untuk apa dalam tahap berikutnya.

UKP4 pun ingin mewujudkan sebuah portal data yang lengkap sebagai sebuah pelayanan data one-stop serta data source yang dapat dikustomisasi. Salah satu implementasi yang cukup menarik adalah benangmerah.net.

Tapi, sebenarnya disitulah kegundahan dimulai. Bahwa data publik masih menunggu bintang jatuh dari negara padahal banyak sekali data yang bisa di  kumpulkan dan disediakan tanpa harus menunggu negara memberikan belas kasihannya. Contoh paling mudah adalah lembaga sipil atau akademik yang mengadakan penelitian — buat yang ngerjain skripsi? Data yang apabila dikumpulkan dapat menjadi sebuah gudang data yang sangat masif dan apabila disandingkan dengan data lain — mungkin — dapat berguna.

Bodoh-bodohnya data pemakai jilbab di arisan RT misalnya, apabila data itu dikumpulkan dapat memetakan berapa banyak orang yang memakai jilbab dalam cakupan RW. Oke, mungkin terlalu bodoh. KAYAK sebuah perusahaan teknologi yang mencari data penerbangan, pelayaran, penginapan, dsb. Menggunakan ratusan data terkini dan lampau KAYAK menciptakan semacam.prediksi akan lonjakan dan penurunan harga untuk tanggal yang dicari penggunanya. Cool banget.

Waze — yang kini dibeli Google — memberikan ilusi bahwa mereka memberikan servis jalur alternatif di saat macet, dalam kenyataannya pada saat kalian menyalakan Waze, mereka mengaggregasikan data arah, kecepatan, dan lokasi untuk mengetahui bagaimana keadaan jalan dan mengembalikan analisa kepadatan jalan di daerah tertentu (yang banyak pengguna waze tentunya) kepada pengguna. Google maps turut serta dalam pengumpulan data tersebut sehingga laporan lalu lintasnya merupakan salah satu yang dimiliki aplikasi peta mobile yang paling terpercaya. Dalam hal ini kita adalah penyedia sekaligus penikmat data.

Dalam konteks lokal bayangkan data pasar swalayan yang bisa diakses secara terbuka. Seorang dapat melihat pasar swalayan mana saja yang memiliki harga terendah di daerahnya sehingga ia dapat misalnya membeli bawang bombay di Carrefour, ayam potong di Hypermart, selada di Hero, dan bumbu ngohiong di Food Hall dengan harga paling murah menghemat 10%-30% bahkan menghitung uang bensin (misalnya). Dengan data terbuka pasar swalayan bisa saja ada prediksi fluktuasi barang-barang tertentu pada waktu-waktu tertentu ini dapat membantu merencanakan belanja bulanan.

Apabila membicarakan data, hampir tidak ada batasan pengolahannya, batasannya hanya kreativitas orang yang memiliki akses terhadap data tersebut. Namun, seberapa tersedianya data, sampai saat ini selalu menjadi masalah.

Pada saat semua berbagi foto dan microblog makanan yang dimakan dan tempat yang ditongkrongi, belum ada keinginan untuk berbagi kapan bus berikutnya datang atau dimana taksi yang kosong. #sharingiscaring

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.