Bendera Putih Oligarki

Oligarki VS Disrupsi

Oke, ini lebay, mungkin kata yang lebih tepat adalah kartel tapi “kartel vs disrupsi” terasa kurang asik, kurang berima. Untuk memastikan kita menggunakan kata yang tepat guna:

kartel /kartél/
Nomina (n)

  1. organisasi perusahaan besar (negara dsb) yang memproduksi barang yang sejenis
  2. (Man) persetujuan sekelompok perusahaan dengan maksud mengendalikan harga komoditas tertentu

disrupsi
Nomina (n)

  1. hal tercabut dari akarnya

Keberadaan raksasa-raksasa bisnis yang menjalani industrinya puluhan tahun di Indonesia terganggu oleh perusahaan-perusahaan “kecil” yang membasiskan kinerjanya di bawah teknologi, kebetulan di Indonesia yang paling terlihat ada di bisnis transportasi, karena memang media kerap kali membahasnya, tetapi pada kenyataannya disrupsi terjadi di berbagai macam sektor. Travel, film, musik, berita, bahkan riset terkena imbas disrupsi digital ini.

Kenyataannya ini adalah sebuah keniscayaan: dimana teknologi komunikasi berubah maka model ekonomi akan ikut berubah. Ini sudah pernad ditunjukkan dari kemunculan telepon, memindahkan konvensionalitas door to door sales ke medium yang lebih efektif. Hal ini dapat terjadi karena pada akhir tahun 1970 kebetulan sistem WATS — sistem langganan dimana telepon jarak jauh tidak lagi dibebankan pada lama dan jarak, tetapi pada biaya langganan bulanan — diimplementasikan. Pada tahun 1980an sampai 1990an pengeluaran telemarketing naik dari 1 miliar USD menjadi 60 miliar USD, keuntungan yang kembali? dicatat 450 miliar USD keuntungan tahunan pada pertengahan 90an dari telemarketing.

Seperti WATS dan disrupsi telemarketing di dunia sales, disrupsi digital sekarang ini berhutang budi pada broadband (pita lebar). Di Indonesia, Internet broadband mulai masuk rumah/kantor di Indonesia sejak tahun 2000 dan merambah mobile tahun 2006. Titik ini mengubah bagaimana moda komunikasi harus cepat dan langsung saat itu juga. Hal ini semakin nyata pada mereka yang lebih muda, mereka yang tidak pernah merasakan modem 56K

Suara modem dialup/56K, semacam suara sangkakala

 

Musik: Pembajak v. Distributor

Sedikit info, belum lama ini Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) bekerjasama dengan pabrik CD bajakan untuk menyelamatkan(?) industri rekaman dari kematian perlahan. Idealnya adalah bahwa semua akan beralih ke media digital, atau, lebih kekinian lagi: streaming. Menggantikan cakram padat, pita magnetis, bahkan peranti pemutar MP3 yang digandrungi anak muda metropolitan sebagai penanda status sosial mereka!

Spectacle.eD3751Angka penjualan iPhone, iPad, dan iPod dalam satu dekade.

Ini sudah dibahas di artikel sebelumnya, yang menarik adalah bagaimana disrupsi ini benar-benar berdampak pada kedua industri ini — ya, produksi bajakan adalah industri — dan bagaimana setelah puluhan tahun memerangi, atau lebih tepatnya menganiaya Industri bajakan, distributor konvensional harus kompromi dengan fakta bahwa mereka telah kalah dalam perang melawan bajakan. Perang melawan media maya, sepertinya, baru akan dimulai.

Kartelisasi musik — baik pembajak maupun distributor resmi — gagal beradaptasi terhadap model ekonomi baru. Terlalu besar untuk luluh lantah, namun untuk meneruskan model yang sudah ada terasa sia-sia, sehingga kompromi harus dilakukan. Kebetulan ASIRI lebih nyaman menggandeng musuh masa lalu ketimbang mencoba berinovasi, satu-satunya positif yang muncul di sini adalah terkuaknya bagaimana penentuan harga konten seni seperti musik merupakan apa yang distributor tentukan, dan bahwa harga produksi itu sendiri dapat semurah itu, yang artinya produsen seni (artis) dapat dibayar jauh lebih adil kalau tidak karena kerakusan industri.

Media siber v. blog “berita”

Tanpa mengecilkan nilai berita yang dikeluarkan oleh blog berita, tapi memang perlu disebutkan bahwa nilai disrupsi dari blog memiliki dampak yang cukup signifikan bagi industri media berita, ini mungkin dapat diindkasikan dengan media cetak yang berguguran sejak 2015 lalu. Dewan pers pun sampai menyatakan ”bahwa memang Adanya peralihan konsumsi media yang terus menerus bergeser ke arah media online menyebabkan oplah media cetak turun[…]”. Mungkin karena masalah mobilitas atau mungkin karena gratis, hm, seakan gratis? karena meskipun terasa begitu sebenarnya bagi pelanggan data mobile tidak gratis juga. Sebuah artikel bisa berkisar antara 1 MB hingga 4 MB per artikel tergantung media onlinenya — dengan AdBlock dinyalakan. Rata-rata operator mengenakan biaya Rp. 1,- sampai Rp. 2,- per KB, artinya tiap artikel bisa mencapai Rp. 4.000,-. Lebih mahal dari harga sebuah koran.

Ok, mungkin dibandingkan praktikalitasnya Rp. 4.000,- lebih baik ketimbang ketahuan baca koran di meja kerja. Jadi mari kita anggap saja mobilitas dan praktikalitas.

Tetapi masalah yang lebih besar adalah bagaimana pembaca memilah sumber berita mana yang valid? Masih beredar dan dipercaya berita berita seperti “Produk pokemon adalah Misi Yahudi” (sudah diturunkan tetapi masih bisa diakses cachenya) ataunarkoba digital yang bikin sakaw. Tanpa adanya filtrasi dari pembaca apapun dapat dianggap sahih seenah si pembaca maupun penulis.

Lepas dari panduan media siber yang dibuat oleh dewan pers sesungguhnya informasi online selain mahal juga merepotkan, karena dengan tsunami informasi ini semua harus divalidasi ulang. Ignorance is bliss.

Perlawanan balik Goliat/Jalut melawan Daud

Perusahaan besar belum akan kemana-mana, lepas dari mitos bahwa perusahaan-perusahaan disrupsi ini mulai dari garasi — atau untuk konteks modern, coworking space yang lagi ngetren saat ini — para raksasa ini mulai beradaptasi dan justru merangkul konsep disrupsi digital ini dengan serius. Mataharimall.com (lipppo), blanja,com (ebay dan telkom), blibli.com (GDP/Djarum), vidio.com (EMTEK), biznetvideo.net (biznet), Moovigo (Telkom), Iflix (indihome),dll.

Digital adalah norma dan model bisnis disruptif hanya menggoyahkan pemain lama untuk sementara, mungkin malah menginspirasi untuk membangun usaha di atas bisnis model yang ditawarkan disrupstor-disruptor ini. Dengan akses kapital yang besar jauh lebih mudah bagi pengusaha-pengusaha untuk merambah sektor baru ini.

Jadi gini, bisnis adalah bisnis dan dalam bisnis ada kegagalan, tetapi hampir semua kegagalan terjadi pada level ketidakmatangan dan kelemahan kapital, kasus-kasus seperti Kleora, Beauty Treats, Abraresto/ Abratable, Alikolo, Valadoo, Paraplou, Kirim, Handymantis, Inapay, Lamido, misalnya, merupakan nama-nama yang mungkin tidak diingat lagi, atau tidak pernah diketahui secara luas juga mungkin karena budget marketingnya tidak mampu bersaing, siapa tau? Ini asumsi, tetapi asumsi yang didukung dengan fakta di mana satu brand bisa mendomisasi media mention di Indonesia.

hm.

Mungkin bendera putih belum dan tidak akan pernah dikibarkan, mungkin masa depan teknologi adalah kooptasi dan komodifikasi. Lagipula kita tinggal di negara yang kapitalis-kerakyatan-antineoliberal-antikomunis. Terserah.

One Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *