Algoritma: Menyetir atau Disetir?

Di era informasi seperti saat ini, istilah algoritma menjadi semakin populer dibicarakan dan dekat dengan keseharian. Algoritma menjadi tulang punggung berbagai layanan dan aplikasi online yang setiap hari kita gunakan. Tidak sulit untuk mencari peran algoritma dalam rutinitas kita. Saat mencari informasi tentang suatu istilah atau peristiwa, mesin pencari seperti Google akan merekomendasikan sejumlah situs terkait pencarian kita. Untuk update gosip atau berita terbaru tentang orang-orang terdekat kita, Facebook akan menunjukkan status-status terkini di News Feed-nya. Anggapan umum “jodoh di tangan Tuhan” pun kini dibubuhi intervensi algoritma berupa OK Cupid atau Tinder yang katanya bisa mempermudah pencarian jodoh. Gambar-gambar “lucu” di Pinterest, lagu-lagu keren di Spotify, film favorit di Netflix atau Hooq, atau bahkan linimassa twitwar terkini tidak lepas dari kontrol algoritma.

Saking besarnya porsi algoritma dalam mengendalikan keseharian kita, media ternama dan para akademisi berlomba untuk mendewakannya. Algoritma dianggap menguasai dan mengatur dunia seolah punya kekuatan super seperti dewa. Tidak hanya disejajarkan dengan dewa, algoritma kerap diibaratkan seperti manusia yang bisa mengembangkan sebuah kebudayaan (algorithmic culture) dan menentukan perihal moral, etika, hingga estetika (benar atau salah, bagus atau jelek). Rekomendasi Spotify atau Netflix disangka membentuk selera musik dan film seseorang, pilihan gambar yang disajikan oleh Google ditafsirkan rasis, atau trending topic di Twitter dituding tidak berpihak untuk kalangan tertentu. Algoritma mendadak jadi seperti orang atau pejabat publik yang bisa disalahkan atas kecerobohan dan ketidakadilan. Ia menjadi mistis karena wujudnya tidak tampak secara seksama tapi konsekuensinya nyata. Banyak pihak di luar bidang ilmu komputer dan teknik yang masih meraba penampakan algoritma.

Sederhananya, algoritma adalah seperangkat langkah-langkah yang logis untuk menyesaikan sebuah soal, masalah, atau pekerjaan. Algoritma merupakan salah satu konsep mendasar dalam ilmu komputer. Ia didaulat sebagai landasan untuk merancang kode yang elegan dan efisien, persiapan dan pengolahan data, serta pembuatan perangkat lunak. Algoritma bukan program, tetapi bagian dari pemograman mengingat program dibuat dengan bahasa pemrograman dengan menggunakan algoritma sebagai kerangka panduan. Contoh sederhana algoritma adalah saat kita membuat kue, kita berpedoman pada resep kue dalam menjalankan proses pembuatan kue sesuai yang diinginkan (resep kue adalah algoritmanya). Bagi pembuat suatu algoritma, sebelum merancang algoritma, ia perlu menciptakan sebuah model yang merumuskan apa permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai. Meskipun ada banyak pilihan algoritma yang bisa dibentuk dari satu model, pembuatnya akan menentukan mana yang “terbaik” sesuai dengan efisiensi dan waktu pemrosesan komputer. Hal tersebut sangat dipertimbangkan apabila si pembuat berhadapan dengan jumlah data yang sangat banyak dan harus menciptakan ‘produk’ untuk konsumen tertentu. Produk yang dimaksud bisa berupa linimassa Twitter, peringkat halaman hasil pencarian Google, atau rekomendasi buku di Goodreads.

Algoritma atau anggaplah si ‘resep kue’ ini kemudian digunakan untuk menghasilkan ‘kue’ atau tujuan yang dikehendaki, oleh karena itu diperlukan ‘bahan-bahan kue’ atau data agar bisa dipersiapkan dan diolah berdasarkan ‘resep’ tersebut. Proses pembuatan ‘kue’ ini juga mementingkan ‘takaran’ atau ukuran dari bahan-bahan yang digunakan agar bisa disesuaikan dengan hasil yang diinginkan. Data yang dibutuhkan oleh para penyedia layanan seperti Google atau Facebook atau OK Cupid diberikan oleh para penggunanya. Data tersebut tentu diperlukan demi mencapai tujuan atau menjawab permasalahan si pengguna. Data perlu diklasifikasi dan dipersiapkan terlebih dahulu untuk disesuaikan bobot atau ukurannya agar cocok dengan keinginan pengguna. Si pembuat algoritma menyusun langkah-langkah logis berdasarkan identifikasi permasalahan dan tujuan si pengguna dengan memanfaatkan data yang ada (tidak hanya dari satu pengguna tapi seluruh pengguna layanannya).

Ilustrasi sederhana, misalnya seorang pengguna Spotify suka mendengarkan musik indie Indonesia, dia sering mendengarkan lagu-lagu Efek Rumah Kaca dan Pure Saturday, Spotify akan merekomendasikan lagu atau band yang paling ‘pas’ atau relevan dalam derajat tertentu buat pengguna tersebut. Rekomendasi tersebut muncul bisa berdasarkan berbagai faktor, misalnya kecocokan genre musik (rock, pop, indiepop, elektronik, dll), suasana atau mood (travel, santai, romantis, dll), geografis (Indonesia, Inggris, dll), kemudian juga frekuensi mendengarkan, mencari, dan lainnya. Dari berbagai informasi tersebut, si perancang algoritma di balik Spotify akan mengoperasionalisasikan dan merumuskan langkah-langkah ‘terbaik’ untuk menentukan band atau lagu apa yang paling relevan untuk disarankan ke pengguna. Christian Rudder, si pencipta aplikasi OK Cupid menjelaskan algoritma pencocokan aplikasinya di video ini dengan sederhana  https://www.youtube.com/watch?v=m9PiPlRuy6E.

Algoritma bukan ‘tangan-tangan tak terlihat’ atau dewa yang mengendalikan segalanya. Di balik algoritma layanan atau aplikasi top seperti Google, Facebook, atau Tinder, ada tim data scientist, ahli statistik,  software engineer dan peneliti. Algoritma tidak lahir dari ruang vakum dan netral. Cathy O’Neil, seorang ilmuwan data dan ahli matematika mengatakan bahwa sebuah model tidak terlepas dari keputusan ilmuwan data mana data yang mau diolah dan apa alasannya, pertanyaan, hipotesis, dan cara apa yang paling tepat untuk mencapai tujuan. Teringat pada pernyataan dosen favorit saya, Bernhard Rieder, dalam tulisannya mengenai algoritma PageRank Google, perbedaan konsekuensi sosiologis dari sebuah algoritma sepertinya lebih karena bagaimana permasalahan tersebut dioperasionalisasikan, tujuan diformulasikan, dan langkah-langkah yang dipilih untuk mencapai tujuan.

Sebelum menuding algoritma berperan dalam menyetir selera masyarakat, menentukan isu mana yang sedang trend, dan gambar mana yang paling relevan dalam mengilustrasikan teritori Palestina, sepatutnya kita bertanya apakah si algoritma disetir oleh para perancang dan perusahaan pembuatnya? Apakah algoritma disetir oleh pandangan masyarakat atau selera pengguna aplikasi itu sendiri? Apakah perusahaan penyedia layanan netral? Apakah masyarakat tidak bias dan bebas nilai?

 

 

Referensi:
Blass, A., & Gurevich, Y. (2003). Algorithms: A quest for absolute definitions. Bulletin of the EATCS, 81, 195-225
The Cathedral of Computation
Gillespie, T. (2014). Algorithm [draft][# digitalkeywords]
Schutt, R., & O’Neil, C. (2013). Doing data science: Straight talk from the frontline. ” O’Reilly Media, Inc.”
The 10 Algorithm that Dominates Our World
Algorithmic culture. “Culture now has two audiences: people and machines”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.